Malang (beritajatim.com) – Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., memperingatkan generasi Z mengenai risiko finansial serius di balik kemudahan transaksi nontunai QRIS pada Selasa (21/1/2026). Fenomena “ilusi digital” ini dinilai menjadi pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda karena hilangnya sensasi kehilangan uang secara fisik.
Rifqi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan psikologis yang sangat tajam antara penggunaan uang tunai dibandingkan dengan metode pindai kode batang. Saat membayar dengan uang fisik, seseorang secara alami merasakan dompet yang menipis sehingga kontrol diri tetap terjaga secara intuitif.
“Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa karena fisik uang berpindah tangan dan dompet menipis. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar; prosesnya terlalu singkat karena cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” jelas Rifqi.
Hilangnya hambatan psikologis ini memicu munculnya fenomena latte factor yang sering tidak disadari oleh kalangan mahasiswa maupun pekerja muda. Pengeluaran kecil rutin seperti kopi kekinian atau jajanan receh sering dianggap remeh, padahal akumulasinya mampu menguras tabungan di akhir bulan secara signifikan.
Selain aspek psikologis, strategi bisnis aplikasi pembayaran digital turut melemahkan kontrol diri pengguna melalui iming-iming promo serta cashback. Penawaran tersebut sejatinya dirancang sebagai strategi pemasaran terukur untuk membentuk kebiasaan belanja berulang atau repeat order.
Rifqi menegaskan bahwa diskon sering kali mendorong konsumen membeli barang yang sebenarnya tidak menjadi prioritas kebutuhan mendasar mereka. “Konsumen yang awalnya tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon; padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan,” paparnya.
Perilaku ini secara perlahan mengubah pola pikir pengguna sehingga hal yang semula bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan konsumtif yang sulit dibendung. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” tambah Rifqi.
Bahaya terbesar dari ketergantungan pada saldo digital adalah terbentuknya mentalitas keuangan yang tidak disiplin karena nilai nominal uang terasa sangat abstrak. Gen Z berisiko tinggi mengalami defisit anggaran karena merasa saldo di m-banking masih mencukupi, meski pengeluaran harian sebenarnya sudah melampaui batas wajar.
Guna mengantisipasi hal tersebut, Rifqi menyarankan mahasiswa untuk memisahkan rekening atau aplikasi dompet digital antara dana tabungan dan konsumsi harian. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS atau pembayaran harian dan jangan dicampur dengan tabungan utama; lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan,” sarannya.
Evaluasi keuangan secara berkala menjadi kunci utama agar generasi muda tetap bisa menikmati teknologi tanpa harus terjebak dalam pusaran konsumerisme. “Melalui strategi perencanaan yang matang, Gen Z diharapkan tetap bisa menikmati gaya hidup cashless yang modern, namun tetap bijak dan aman dari jebakan konsumerisme berlebih,” tutup dosen UMM tersebut. [dan/beq]






