Jombang (beritajatim.com) – Pencemaran mikroplastik di Kabupaten Jombang semakin memprihatinkan. Berdasarkan pemantauan dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), mikroplastik ditemukan di sejumlah titik yang diambil dari sampel udara di wilayah Jombang.
Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber, yang seringkali berasal dari serat tekstil sintetis, limbah cucian, serta aktivitas domestik masyarakat.
Pengambilan sampel udara dilakukan di lima lokasi strategis, yakni Depan Polres Jombang, Depan Lapas Jombang, Jatirejo Cukir, Kedai Sufi Desa Sengon, dan Perempatan Desa Sengon Jombang. Hasil pemantauan menunjukkan variasi jumlah dan jenis mikroplastik, dengan temuan tertinggi berada di Jatirejo, Cukir.
Hasil pengamatan pada sampel udara selama satu jam pengambilan sampel menunjukkan keberadaan mikroplastik di setiap lokasi yang diteliti. Di depan Polres Jombang, ditemukan 13 partikel mikroplastik seluruhnya berupa fiber.
Di depan Lapas Jombang, ada 14 partikel, yang terdiri dari 10 fiber, 1 film, dan 3 fragmen. Di Jatirejo, Cukir ditemukan 16 partikel, yang terdiri dari 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Di Kedai Sufi Desa Sengon ditemukan 4 partikel mikroplastik jenis film/filamen, dan di Perempatan Sengon tercatat total 58 partikel mikroplastik, terdiri dari 11 fiber, 6 film, dan 41 fragmen.
“Dominasi fiber, filamen, dan fragmen di kelima lokasi tersebut mengindikasikan kuatnya pengaruh aktivitas pembakaran sampah dan timbunan sampah domestik terhadap pencemaran mikroplastik di udara,” ungkap Rafika Aprlianti, Peneliti Ecoton, Senin (19/1/2026).
Selain itu, tingginya jumlah fragmen di udara, terutama di kawasan lalu lintas padat, menunjukkan kontribusi dari abrasi plastik, aktivitas kendaraan, kemasan sekali pakai, serta debu jalanan yang tercemar plastik.
Ancaman Kesehatan dan Lingkungan
Temuan mikroplastik di udara Jombang juga menambah kekhawatiran terkait ancaman kesehatan masyarakat. Menurut Rafika Aprilianti, dominasi fiber hampir selalu muncul dalam riset mikroplastik di kawasan perkotaan dan permukiman padat.
“Fiber paling banyak berasal dari aktivitas harian seperti mencuci pakaian. Serat sintetis yang lepas akan masuk ke saluran air, sungai, dan kini juga terdispersi di udara yang kita hirup setiap hari,” jelas Rafika.
Pendiri Ecoton, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa temuan mikroplastik di udara memperbesar risiko kesehatan masyarakat.
“Mikroplastik tidak hanya mencemari air dan masuk ke rantai makanan melalui ikan, tetapi juga terhirup langsung oleh manusia. Ini menjadikan mikroplastik sebagai bagian dari polusi udara yang berisiko terhadap sistem pernapasan dan kesehatan jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menilai lemahnya pengelolaan sampah domestik dan plastik sekali pakai menjadi faktor utama tingginya paparan mikroplastik di lingkungan.
“Selama pengolahan air limbah rumah tangga tidak dibenahi dan konsumsi plastik sekali pakai terus dibiarkan, mikroplastik akan terus mengalir di air dan melayang di udara. Data Ecoton menunjukkan 55,5% mikroplastik di udara akibat aktivitas pembakaran sampah,” tegasnya.
Edukasi Lingkungan untuk Generasi Muda
Hasil temuan ini dipaparkan dalam kegiatan edukasi lingkungan di MA – MTs Al Hikam Jatirejo, Diwek, Jombang, pada Senin, 19 Januari 2026, yang diikuti oleh pelajar, guru, dan pegiat lingkungan. Kepala MA Al Hikam Jatirejo, Matuhah Mustiqowati, menyambut baik kegiatan tersebut.
“Kami ingin siswa-siswi sadar bahwa aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan penggunaan plastik sekali pakai berdampak langsung pada kualitas lingkungan dan kesehatan, bahkan bisa berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Ini harus ditanamkan pada anak-anak muda terutama siswa, supaya mulai tergerakkan hatinya untuk mengurangi plastik sekali pakai,” ujarnya.
Desakan Kebijakan untuk Pengendalian Mikroplastik
Temuan ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah-langkah preventif. Tim MA dan MTs Al Hikam, Jatirejo Diwek merekomendasikan beberapa kebijakan untuk mengurangi dampak pencemaran mikroplastik, antara lain:
Memperketat pengelolaan sampah domestik, mendesak pemilahan sampah harus dimulai dari sumber (rumah atau sekolah), memberikan sanksi terhadap masyarakat yang membakar sampah plastik, mengendalikan penggunaan plastik sekali pakai, terutama di pengurangan sampah, serta memasukkan isu mikroplastik sebagai bagian dari pengendalian polusi udara dan perlindungan kesehatan masyarakat. [suf]






