Surabaya (beritajatim.com) – Media sosial ramai membahas isu child grooming menyusul pengakuan seorang artis di Indonesia. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) Yuan Yovita Setiawan mengungkap alur manipulasi yang umum digunakan pelaku dalam kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja
Yuan menjelaskan, pelaku biasanya menggunakan kerangka Sexual Grooming Mode (SGM) yang diperkenalkan peneliti Georgia M. Winters dan Elizabeth L. Jeglic. Tahap awal dimulai dengan pemilihan korban yang dinilai rentan secara psikologis.
“Pelaku akan memilih individu yang penurut, kurang pengawasan orang tua, membutuhkan kasih sayang, mengalami masalah perilaku, atau merasa kesepian,” kata Yuan, Rabu (14/1/2026).
Setelah korban terpilih, pelaku berupaya memperoleh akses dengan membangun interaksi intens dan mengisolasi korban dari lingkungannya. Kepercayaan korban kemudian dibentuk melalui sikap yang tampak sangat perhatian agar pelaku memiliki kendali lebih leluasa.
Pada tahap berikutnya, pelaku mulai membiasakan korban dengan konten seksual dan kontak fisik. Proses ini bertujuan menormalkan paparan dan kekerasan seksual dalam persepsi korban. Setelah kekerasan terjadi, pelaku mempertahankan relasi melalui pembungkaman, baik dengan kompensasi maupun ancaman.
Yuan menilai tahapan tersebut membuat relasi manipulatif sulit diputus. Korban cenderung bergantung sepenuhnya pada pelaku dan mengalami tekanan psikologis akibat komunikasi manipulatif yang memunculkan rasa bersalah.
“Korban menjadi bingung dan merasa tidak berhak mempertanyakan pengalaman buruk yang dialami. Mereka merasa ada yang tidak benar, tetapi tidak mampu berbuat apa-apa,” ujarnya.
Menurut Yuan, child grooming merupakan pendekatan manipulatif dengan tujuan kejahatan seksual terhadap anak atau remaja di bawah umur. Praktik ini tidak pantas secara moral karena adanya ketimpangan relasi antara orang dewasa dan anak yang secara biologis maupun psikologis masih rentan.
Ia menambahkan, meski indikasi child grooming tidak selalu terlihat, pencegahan dapat dilakukan melalui kolaborasi orang tua, sekolah, dan lingkungan. Salah satunya dengan mengajarkan batasan tubuh serta membangun komunikasi terbuka dan empatik dengan anak.
“Kita perlu lebih peduli pada anak dan remaja di sekitar. Jika ada interaksi yang mencurigakan dengan orang dewasa, perlu ditelisik lebih jauh,” pungkas Yuan. [ipl/beq]






