Surabaya (beritajatim.com) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan cacar air pada anak masih memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan berisiko menimbulkan komplikasi pada kelompok tertentu. Pencegahan melalui vaksinasi varicella dinilai penting untuk menekan penularan penyakit tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam seminar daring bertajuk Mengenal Lebih Jauh Herpes Zooster dan Cacar pada Anak yang digelar Selasa (13/1/2026).
Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan cacar air (varicella) dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama, yakni Varicella Zoster Virus. Varicella merupakan infeksi primer yang umumnya terjadi pada anak, sedangkan herpes zoster muncul akibat reaktivasi virus yang sebelumnya dorman di dalam tubuh.
“Setelah infeksi primer, virus ini akan menetap dan bisa aktif kembali ketika daya tahan tubuh menurun, lalu muncul sebagai herpes zoster,” kata Piprim.
Ia menyampaikan varicella dapat dicegah melalui imunisasi varicella yang diberikan dua kali sejak usia satu tahun. Berdasarkan data yang ada, dua dosis vaksin memberikan perlindungan hampir menyeluruh dan juga menurunkan risiko herpes zoster di kemudian hari.
“Imunisasi varicella dua kali perlindungannya sekitar 99 persen,” ujarnya.
Piprim menegaskan varicella tidak selalu ringan, terutama pada remaja, orang dewasa, dan anak dengan penyakit penyerta. Pada kelompok tersebut, risiko komplikasi dapat meningkat.
“Pada anak dengan komorbid, infeksi yang ringan pada anak sehat bisa menjadi lebih berat,” katanya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropik IDAI dr. Ratni Indrawanti mengatakan varicella termasuk penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Nilai reproduction number (R0) varicella berada pada kisaran 8–12.
“Artinya satu anak dengan varicella dapat menularkan ke delapan hingga 12 anak lain di sekitarnya, terutama di lingkungan padat seperti rumah dan sekolah,” kata Ratni.
Ia menjelaskan sebelum vaksinasi digunakan secara luas, varicella merupakan penyakit yang hampir dialami semua anak. Insidensi pada era pra-vaksinasi mencapai sekitar empat juta kasus per tahun, dengan rawat inap sekitar 11.000 kasus dan kematian sekitar 100 orang per tahun.
“Setelah vaksinasi diterapkan, insidensi varicella menurun lebih dari 90 persen dalam 10 tahun,” ujarnya.
Menurut Ratni, pada era pascavaksinasi, kasus berat lebih banyak ditemukan pada kelompok yang tidak divaksin, dewasa, dan individu dengan gangguan sistem imun.
IDAI menilai peningkatan kesadaran terhadap imunisasi varicella penting untuk melindungi anak-anak, khususnya kelompok rentan, serta menekan penularan penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin. [ipl/beq]






