Sekolah pertama dalam hidup manusia bukanlah gedung, kurikulum, atau teknologi. Ia bernama ibu, ruang awal tempat rasa aman diperkenalkan, kesabaran dilatih, dan makna dicintai dipelajari, jauh sebelum dunia datang dengan pelajaran-pelajaran yang lebih keras dan kompleks.
Hari ini, Indonesia melangkah cepat menuju pendidikan digital. Teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai memasuki ruang kelas, membawa harapan sekaligus kegelisahan. Di tengah perubahan itu, sosok ibu mengingatkan kita pada satu fondasi yang kerap terlewat dalam diskusi kebijakan, bahwa kemanusiaan pertama-tama dibangun melalui pengasuhan ibu.
Pengasuhan bukanlah konsep, apalagi teori. Ia hadir sebagai kebiasaan kecil yang diulang setiap hari, dalam cara menunggu dengan sabar, meminta maaf tanpa merasa direndahkan, mendengarkan sebelum menjawab, serta mencintai tanpa menghitung untung rugi. Semua diajarkan bukan hanya lewat kata-kata, melainkan melalui teladan dan kehadiran. Dari sanalah kehidupan sosial manusia sesungguhnya bermula.
Demikian pentingnya ibu, seabad silam, G.K. Chesterton mengingatkan kita bahwa “Every man is womanised, merely by being born”. Ungkapan ini bukan sindiran, melainkan pengakuan mendalam bahwa asal-usul manusia adalah kelembutan. Setiap kelahiran bermula dari rahim, dari perawatan yang sabar, dari cinta yang tidak menuntut balas. Tangisan pertama manusia menandai bukan kekuatan, tetapi ketergantungan, bahwa hidup sejak awal diserahkan pada tangan seorang ibu.
Hari ini, ruang tempat pengasuhan itu telah berubah sangat cepat. Kita sedang membesarkan anak-anak yang pikirannya dibentuk bukan hanya oleh ibu, orang tua, guru, dan buku, tetapi oleh sesuatu yang tak terlihat, tak lelah, dan nyaris tak pernah berkata “tidak”, yakni dunia yang dipenuhi gawai, algoritma, dan AI yang masuk hingga ke ruang paling privat.
Laporan The Economist edisi 6 Desember 2025, menyebut lahirnya Generasi AI. Generasi yang sejak usia dini belajar, bermain, berkhayal, bahkan mencurahkan kegelisahan kepada AI.
Media ini mengutip survei RAND di mana lebih dari 60 persen siswa sekolah menengah di AS telah menggunakan AI. Di China, bahkan seluruh SD hingga SMA akan memperoleh pelajaran AI secara sistematis pada 2030.
Data ini menegaskan satu hal bahwa AI bukan lagi masa depan pendidikan; AI telah menjadi bagian dari masa kanak-kanak hari ini. Anak-anak berdiri di barisan paling depan dari perubahan itu. Anak-anak adalah pionir.
Tetapi, sejarah menunjukkan bahwa para pionir selalu yang paling awal menanggung risiko dari sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami akibatnya. Dalam bahasa yang lebih jujur, kini anak-anak menjadi semacam objek ‘eksperimen’ pendidikan dan kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah modern.
Janji AI dalam pendidikan ini dahsyat. Bagi banyak keluarga, termasuk di Indonesia, AI membuka peluang baru di tengah keterbatasan guru, kesenjangan kualitas sekolah, serta ketimpangan wilayah.
AI memberi harapan atas akses pendidikan yang lebih adil. AI menawarkan pembelajaran personal, tutor yang selalu tersedia, serta materi yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak.
Dalam konteks Pendidikan Indonesia, kita bisa jadi belum memiliki data dan peta komprehensif sejauh mana AI digunakan, bagaimana pola pemanfaatan, dampak, maupun kesenjangan yang mungkin ditimbulkannya.
Namun satu hal sulit disangkal, AI sudah menjadi bagian keseharian pendidikan kita. AI hadir di ponsel siswa, di mesin pencari, di aplikasi belajar daring, dan dalam cara anak-anak mengerjakan tugas serta mencari jawaban. Tanpa disadari, AI telah lebih dulu mengubah kebiasaan belajar, bahkan sebelum kebijakan pendidikan sempat merumuskannya.
Di balik semua itu, muncul pertanyaan lebih mendasar: jika mesin semakin cakap mengajar, siapa yang mengajarkan anak-anak bisa merasa?
Pertanyaan itu muncul karena AI semakin mengambil ruang dalam kehidupan anak-anak. Bahkan, tidak sedikit fakta menunjukkan sebagian anak mulai menyerahkan proses berpikirnya kepada mesin. Mereka memang lebih cepat menyelesaikan tugas, tetapi umumnya kehilangan kedalaman.
Sementara di luar sekolah, AI memasuki ruang paling personal dalam kehidupan anak-anak seperti hiburan, permainan, bahkan relasi. Anak-anak semakin terbiasa berinteraksi dengan entitas yang selalu responsif, selalu mengiyakan, tidak pernah lelah, dan memberikan kenyamanan.
Hal ini tampak ideal, tetapi justru di situlah letak risikonya. Hidup yang selalu dilayani AI tidak pernah benar-benar mengajarkan kedewasaan. Karena yang tergerus bukan hanya kemampuan kognitif, melainkan ketahanan mental menghadapi ketidaknyamanan, persoalan kematangan emosional.
Kematangan emosional umumnya tidak lahir dari kenyamanan yang terus dipelihara. Anak tetap perlu bersua dengan perbedaan, kekecewaan, bahkan ‘frustrasi’ agar mereka belajar menata emosinya. Semua pengalaman itu hadir melalui relasi, dalam pengasuhan yang menemani, menunggu, dan kadang tidak selalu menuruti.
Dalam pengasuhan manusia, cinta dipahami bukan sebagai pemenuhan cepat, melainkan kesetiaan pada perjalanan dan proses.
Di sini menjadi jelas perbedaan mendasar mengenai mesin dan manusia. AI bekerja dengan data; manusia bekerja dengan rasa. AI mengenali pola; manusia mengenali kegelisahan yang belum mampu diucapkan. AI menawarkan jawaban cepat; manusia mengajarkan sabar dalam proses.
Sejauh ini, pertama kali anak belajar “merasa” bukan dari negara, bukan dari sekolah, dan tentu bukan dari teknologi. Ia belajar dari seorang Ibu; figur yang bersedia terjaga ketika yang lain tidur; yang memilih merawat ketika dunia belum ramah; yang mencintai bahkan sebelum diminta. Dari relasi inilah anak menyerap makna, empati, batas, dan tanggung jawab.
Pengasuhan ibu bekerja dalam senyap, tetapi dampaknya mendalam. Dari rumah manusia belajar menahan diri, memahami perbedaan, dan meredakan ketegangan jauh sebelum ia mengenal dunia yang lebih luas. Karenanya, kegelisahan ini bukan tentang kerinduan romantik pada figur ibu, melainkan kekhawatiran rasional tentang pergeseran peran pengasuhan.
Memang, AI dapat menjadi guru tambahan, asisten belajar, bahkan teman bermain tanpa lelah. Namun ia tidak pernah mampu menggantikan ibu sebagai sumber pertama pembentukan nilai. Empati, kesabaran, dan keberanian untuk merawat bukanlah hasil algoritma, melainkan buah dari kehadiran pengasuhan yang nyata.
Masa depan kemanusiaan tidak cukup diisi oleh anak-anak yang tajam pikirannya, tetapi juga oleh manusia yang matang perasaannya. Ketika kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian besar hari-hari anak, yang terancam bukan sekadar cara belajar, melainkan cara menjadi manusia.
Sebab justru tanpa kehadiran manusia, apalagi ibu, pengasuhan perlahan berpindah kepada AI, sementara kita belum sungguh tahu ke arah mana kemanusiaan sedang dibentuk.
Di titik itulah sosok ibu hadir bukan sebagai kenangan yang diromantisasi, melainkan sebagai benteng kemanusiaan dan penanda etis. Di era AI, pelajaran dari kehadiran ibu tidak pernah menjadi usang; justru semakin vital bagi masa depan manusia dan kemanusiaan.
Karena sejatinya ibu adalah sekolah pertama manusia menjadi manusia.
Selamat Hari Ibu. []
Agus Trihartono, Dosen FISIP Universitas Jember. Rektor UI Cordoba, Banyuwangi






