Surabaya (beritajatim.com) – Matematika tidak selalu identik dengan rumus kaku dan angka rumit. Seorang mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) membuktikan, persamaan matematika bisa diolah menjadi karya visual bertema Natal yang presisi dan artistik.
Karya tersebut dibuat oleh Cedric Gratia Tjia, mahasiswa Fakultas Teknik Informatika Ubaya. Ia menyusun gambar Natal sepenuhnya dari persamaan matematika dan menampilkannya dalam bentuk grafik digital.
Cedric menjelaskan, karya itu dibuat khusus untuk edisi Natal dengan inspirasi dari foto keluarganya saat Natal 2021. Karya tersebut juga menjadi bentuk penghargaan personal bagi ayahnya yang meninggal dunia sebulan lalu.
“Ini saya buat spesial untuk Natal. Inspirasinya dari foto keluarga saya, sekaligus sebagai bentuk apresiasi untuk papa,” ujar Cedric, Senin (22/12/2025).
Seluruh elemen visual dalam gambar tersebut dibentuk melalui perhitungan matematis. Cedric tidak hanya menggunakan satu jenis persamaan, melainkan mengombinasikan berbagai model untuk menghasilkan detail gambar yang presisi.
“Semua gambar saya bentuk dari persamaan matematika. Bukan satu, tapi linear, kuadrat, trigonometri, lingkaran, ellipse, dan lainnya,” katanya.
Ia menyebut, pendekatan ini berangkat dari ketertarikannya pada matematika sejak sekolah dasar. Minat tersebut terus ia tekuni melalui berbagai kompetisi hingga kini menempuh pendidikan di Ubaya.
“Matematika saya coba kolaborasikan dengan seni. Semua objek, tulisan, dan gambar berbasis hitung-hitungan,” ujar Cedric.
Proses pengerjaan karya tersebut membutuhkan ketelitian tinggi. Menurut Cedric, tantangan utama terletak pada perancangan sketsa awal dan menjaga konsistensi setiap potongan grafik agar tetap presisi.
“Kesulitannya ada di sketsa dasar dan memastikan setiap bagian pas. Total pengerjaan untuk edisi natal ini sekitar 84 jam,” ucapnya.
Hingga kini, Cedric telah menghasilkan sekitar lima hingga enam karya serupa. Ia mengaku awalnya hanya mencoba secara iseng sebelum akhirnya menekuni teknik tersebut secara lebih serius.
Dalam prosesnya, Cedric menggunakan platform grafik matematika Desmos sebagai alat utama. Meski demikian, ia menegaskan bahwa ada berbagai alternatif lain yang bisa digunakan.
“Tool yang saya pakai Desmos. Fungsinya sebagai penerjemah grafik. Ada juga GeoGebra dan lainnya, tergantung preferensi,” katanya.
Soal pewarnaan, Cedric menjelaskan bahwa warna muncul secara otomatis dari sistem aplikasi. Setiap persamaan menghasilkan garis dengan warna berbeda. “Warna itu bawaan Desmos. Garis berikutnya otomatis dibuat berbeda,” ujarnya.
Melalui karyanya, Cedric ingin menunjukkan bahwa matematika tidak selalu sulit jika dipelajari dengan pendekatan yang tepat. “Sebenarnya matematika itu tidak sulit. Tapi terasa sulit karena jarang latihan,” kata Cedric.
Ia berharap karyanya bisa menjadi contoh bahwa matematika dapat dipelajari dengan cara yang lebih menyenangkan dan kontekstual, terutama bagi generasi muda. [ipl/kun]






