Lamongan (beritajatim.com) – Sego boran menjadi salah satu kuliner khas Kabupaten Lamongan yang masih tetap lekat dengan kesan kesederhanaan.
Jika beberapa kuliner khas Lamongan lain, seperti tahu campur, Soto Lamongan dan beberapa hidangan lainnya sudah banyak diadopsi rumah makan dan diracik ulang, tidak demikian dengan sego boran.
Sego boran tidak lahir untuk kemewahan meja makan. Tapi tumbuh bersama ritme kota. Trotoar, gelaran tikar, suara lalu lalang kendaraan, payung berukuran besar yang menjadi tempat berteduh penjualnya, menjadi bagian tak terpisahkan, atau bahkan menjadi ciri khas dan daya tarik tersendiri dari sego boran.
Sebutan boran, berasal dari nama wadah yang terbuat dari anyaman bambu, yang digunakan untuk membawa nasi dan lauk-pauk.
Tidak ada catatan resmi tentang kapan tepatnya sego boran muncul. Namun masyarakat Lamongan mengenalnya sebagai kuliner yang berakar dari tradisi pedagang kecil, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mayoritas pedagang Sego Boran berasal dari satu desa, yakni Desa Sumberejo, Kecamatan Lamongan. Bahkan, sego boran menjadi komoditas ekonomi dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.
Seperti dituturkan Ani Rahayu. Wanita 44 tahun itu mengaku berjualan sego boran sekak masih belia, setelah mewarisi resep dari sang ibu.
“Saya jualan sudah lama, mungkin sudah 20 tahun lebih. Resepnya dari ibu. Dulu kan ibu saya juga jualan nasi boran,” kata Ani, Sabtu (13/12/2025).
Ani bukan satu-satunya. Dari delapan bersaudara, empat di antaranya memilih jalan hidup yang sama, berdagang sego boran. Dua saudaranya merantau, sementara dua lainnya kebetulan laki-laki, sehingga lebih memilih pekerjaan lain.
Namun bagi Ani, meneruskan usaha ibunya bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga soal menjaga warisan rasa yang telah melekat puluhan tahun.
“Resepnya ini kebanyakan ya turun-temurun. Kalau orang luar Sumberejo coba bikin bumbunya, biasanya rasanya beda,” ujarnya.
Menurut Ani, banyak yang mencoba meniru, namun bumbu sego boran kerap berubah rasa. Cenderung mirip bumbu bali. Karena komposisinya sangat spesifik, dan racikannya lahir dari kebiasaan para ibu di Sumberejo sejak lama.
Salah satu ciri paling kuat dari sego boran adalah keberadaan ikan sili, sebagai lauk khas. Ikan air tawar berbentuk memanjang itu menjadi ikon yang tak tergantikan.
Namun, ketersediaannya kini semakin menipis. Ani mengaku harus memesan terlebih dahulu kepada pemasok untuk memastikan stok tetap ada.
“Khasnya itu ikan sili. Tapi sekarang agak sulit dicari. Jadi ya pesan dulu,” katanya.
Selain ikan sili, sego boran menawarkan banyak pilihan lauk. Ada ayam, udang goreng, jeroan, ikan bandeng, ikan gabus, telor dadar hingga telor bebek.
Meski tantangan terus muncul dari harga bahan baku hingga persaingan dengan kuliner modern, para pedagang sego boran tetap setia bertahan. (fak/ted)






