Bojonegoro (beritajatim.com)– Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bojonegoro mencatat angka kecelakaan lalu lintas yang mengkhawatirkan sepanjang periode Januari hingga November 2025. Tercatat sebanyak 990 insiden terjadi di jalanan Bojonegoro, mengakibatkan 168 korban meninggal dunia dan 20 orang lainnya mengalami luka berat.
Statistik memprihatinkan ini menjadi sorotan serius pihak kepolisian. Kasatlantas Polres Bojonegoro, AKP Deni Eko Prasetyo, menegaskan bahwa tingginya fatalitas di jalan raya harus dimaknai sebagai peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan sekadar data statistik tahunan.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi kehilangan yang sangat besar bagi keluarga dan masyarakat,” ujar AKP Deni, Kamis (4/12/2025).
Lebih jauh, Deni memaparkan konteks yang lebih luas bahwa Indonesia secara nasional masih terjebak dalam kategori negara dengan rasio kematian akibat kecelakaan yang tinggi. Bahkan, insiden di jalan raya tercatat sebagai penyebab kematian nomor dua terbesar di dunia.
Di Bojonegoro sendiri, situasi diperparah oleh dominasi kendaraan roda dua dalam insiden laka lantas. Data menunjukkan bahwa 72 persen dari total kecelakaan yang terjadi melibatkan sepeda motor.
Analisis kepolisian menunjukkan faktor utama pemicu kecelakaan masih didominasi oleh human error atau kelalaian pengendara. Bentuk pelanggaran yang paling sering ditemukan meliputi ketidakpatuhan terhadap rambu lalu lintas, memacu kendaraan melebihi batas kecepatan, mengabaikan penggunaan helm standar, hingga memaksakan diri berkendara dalam kondisi fisik yang lelah atau mengantuk.
“Setiap pelanggaran lalu lintas berpotensi menghilangkan nyawa, baik pengendara sendiri maupun orang lain. Kami harap angka korban tidak terus bertambah,” tegas perwira balok tiga tersebut.
Pihak kepolisian terus mengimbau agar keselamatan dijadikan prioritas utama ( safety first ). Disiplin berlalu lintas dinilai sebagai langkah preventif paling efektif untuk menekan angka kecelakaan dan meminimalisir risiko fatalitas di jalan raya. [lus/beq]






