Madiun (beritajatim.com) – Setelah berbulan-bulan tertekan akibat anjloknya harga, geliat komoditas hortikultura di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, kembali menunjukkan tren positif. Memasuki pengujung tahun, sejumlah harga sayuran utama mulai memantul sehingga petani lebih percaya diri memenuhi kebutuhan pasar menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Di kawasan sentra budidaya yang dikelola BUMDes Kare, lahan seluas kurang lebih setengah hektare saat ini tengah memasuki masa panen tomat dan cabai merah besar. Dua komoditas tersebut menjadi tumpuan utama produksi akhir tahun.
Arik Krianto, pengelola budidaya hortikultura BUMDes Kare, menyebutkan bahwa harga tomat kini berkisar Rp5.000–Rp7.000 per kilogram, naik drastis dari posisi sebelumnya yang hanya sekitar Rp2.000. Adapun cabai merah besar kini menembus Rp25.000 per kilogram, melampaui perkiraan internal BUMDes.
“Panen keempat ini sudah melebihi capaian target. Kenaikan harga juga cukup signifikan dibanding beberapa bulan terakhir,” terang Arik, Selasa (2/12/2025).
Ia memastikan semua komoditas hortikultura di Kare—mulai tomat, cabai, bawang merah, hingga aneka sayuran daun—siap memenuhi permintaan pasar selama periode Nataru. Namun, tantangan lain justru hadir dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan deras yang kerap turun memicu serangan hama seperti layu fusarium, lalat buah, hingga belalang. Karena itu, pengelola memperketat pengendalian organisme pengganggu tanaman menggunakan pestisida dan insektisida terukur.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kare, Agung Setiyo Nugroho, menuturkan bahwa produksi hortikultura di wilayah tersebut sepanjang 2025 menunjukkan peningkatan, baik dari segi kuantitas maupun keragaman komoditas. Meski demikian, dinamika cuaca tetap menjadi faktor paling menentukan.
“Untuk tomat, dari total 3.800 tanaman, proyeksinya bisa mencapai delapan ton. Sedangkan untuk cabai, targetnya sekitar empat ton dalam satu hamparan,” jelas Agung.
Selain tomat dan cabai, petani Kare juga gencar mengembangkan komoditas lain seperti bawang merah, kentang, bawang prei, dan wortel. Mereka berharap tren kenaikan harga jelang akhir tahun mampu memulihkan kerugian akibat merosotnya harga beberapa waktu lalu dan menjadi momentum untuk memperkuat sektor hortikultura di kawasan dataran tinggi tersebut. (rbr/kun)






