Surabaya (beritajatim.com) – Sejak Januari hingga Oktober 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya melaporkan 968 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS. Namun, angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 10 persen dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama.
Berdasarkan data yang diperoleh, mayoritas kasus atau sekitar 52,48 persen didiagnosis pada warga ber-KTP luar Surabaya.
Kepala Dinkes Kota Surabaya, Nanik Sukristina, mengatakan, meskipun angka kasus HIV/AIDS di Surabaya cukup tinggi, penurunan tersebut patut diapresiasi. “Data perkembangan kasus HIV pada tahun 2025 menunjukkan penurunan sebesar 10,03 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama (Januari – Oktober),” ujar Nanik saat konferensi pers, Selasa (2/12/2025).
Nanik juga menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya kasus HIV/AIDS, termasuk perilaku pengidapnya. Faktor-faktor tersebut antara lain hubungan seks bebas tanpa pengaman, sering berganti pasangan, dan penyalahgunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) suntik.
“Bisa dipengaruhi karena faktor sering ganti-ganti pasangan seksual, seks bebas, bahkan penyalahgunaan suntik napza,” ungkap Nanik.
Surabaya juga mencerminkan tren regional, di mana Provinsi Jawa Timur secara nasional menduduki peringkat kedua sebagai provinsi dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Oleh karena itu, upaya penanggulangan HIV/AIDS di Surabaya sangat penting untuk mengurangi angka kasus yang terus meningkat.
Lebih lanjut, Nanik mengungkapkan bahwa kelompok yang paling rentan terhadap infeksi HIV/AIDS di Surabaya adalah laki-laki yang melakukan seks sesama jenis, pekerja seks komersial (PSK), pasien TBC dan Infeksi Menular Seksual (IMS).
Selain itu, ibu hamil dan warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) juga termasuk dalam kelompok yang sangat berisiko. “Paling rentan terinfeksi HIV/AIDS adalah ibu hamil dan warga Binaan Pemasyarakatan,” terang Nanik.
Dalam rangka pencegahan dan penanggulangan, Dinkes Kota Surabaya telah melakukan berbagai sosialisasi masif, mulai dari sekolah-sekolah hingga kepada calon pengantin. Pemerintah kota juga mengintensifkan kampanye edukasi dan pencegahan penularan HIV pada kelompok usia produktif seperti pelajar SMP, SMA/SMK sederajat, ibu hamil, dan calon pengantin.
“Upaya pemerintah dalam menangani kasus HIV/AIDS adalah meningkatkan edukasi dan kampanye pencegahan penularan HIV pada kelompok usia produktif seperti pelajar SMP, SMA/SMK sederajat, ibu hamil dan calon pengantin,” tutup Nanik. [rma/suf]






