Surabaya (beritajatim.com) – Pengamat Politik Rocky Gerung dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak melempar sindiran soal budaya berpikir di kampus.
Keduanya sepakat, kampus seharusnya menjadi ruang ‘geleng-geleng’, bukan ruang ‘mengangguk’. Tapi persoalannya, menurut mereka, kemampuan menggeleng hari ini kerap kalah oleh algoritma.
“Kampus ditakdirkan untuk berbeda pikiran. Takdir kampus adalah menggeleng, bukan mangguk-mangguk,” ujar Rocky dalam seminar yang digelar BEM FISIP Universitas Airlangga, Senin (24/11/2025).
Ia menegaskan bahwa gelengan kepala bukan simbol penolakan, tapi hasrat mencari pengetahuan. “Kalau Anda menggeleng, itu artinya Anda ingin ada pengetahuan,” kata Rocky.
Ia menyebut kampus semestinya menjadi ruang ide yang membekali mahasiswa bukan hanya kemampuan berpikir, tetapi keberanian berpikir.
“Jadi, teman-teman silakan bicara, kita bisa tuntun, sebagai ruang berpikir, ruang ide, dimaksudkan untuk membekali Anda. Bukan dengan kemampuan berpikir, tapi dengan keberanian berpikir,” kata Rocky.
Sementara itu, Emil Dardak mengungkapkan bahwa geleng-geleng di kampus adalah mekanisme alami untuk menguji kekuatan argumen.
Namun ia menilai kualitas akademik yang tumpul sering membuat proses bantah-membantah dianggap sebagai sentimen pribadi.
“Kalau kualitas akademiknya kurang tajam, proses disprove itu dianggap sebagai sesuatu yang a priori. Atas dasar like or dislike,” ujarnya.
Emil memberi contoh polemik soal anggaran Sekolah Rakyat. Di satu sisi muncul kritik bahwa alokasi besar tidak adil karena banyak sekolah rusak. Di sisi lain ada argumen bahwa kebijakan itu justru afirmasi bagi kelompok paling bawah.
“Ini perdebatan yang memang harus terjadi,” katanya. Perbedaan pandangan, menurut Emil, adalah syarat demokrasi sehat.
Satu hal yang membuat situasi makin rumit, lanjut Emil, adalah algoritma. Ia menyebut fenomena ‘algoritma nexus’, di mana preferensi pengguna mengurung orang dalam lorong pendapat yang sama.
“Kalau saya seneng dengerinnya Bung Rocky, pasti akan keluar Bung Rocky terus. Tapi kalau saya senengnya Pak Purbaya, ya itu yang terus muncul,” katanya.
Akibatnya, ruang akademik yang seharusnya mendidik keberanian menguji gagasan malah kalah oleh timeline yang memanjakan selera.
Meski begitu, Emil mengakui media sosial juga membuka akses informasi bagi publik awam. Namun ia mempertanyakan apakah kampus masih mampu menjadi patron diskursus, tempat orang kembali mengukur kualitas berpikir. [ipl/ian]






