Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 42 karya lukisan menghiasi Galeri Raos di Batu, dalam pameran seni bertajuk “Seni Lupa”, menampilkan delapan tema berbeda yang tersebar di setiap sudut galeri. Pameran ini menghadirkan ekspresi visual mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang berada di penghujung semester sembilan, memvisualisasikan perjalanan emosional mereka melalui medium lukisan.
Setiap karya mencerminkan pengalaman personal para seniman, dengan tema yang bervariasi mulai dari budaya lokal, keindahan alam, isu sosial seperti eksploitasi hewan, hingga refleksi nilai-nilai kehidupan. Karya-karya ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga sarat makna, menghadirkan dialog emosional antara seniman dan pengunjung.
Salah satu peserta, Zitofani Dwi Fajar Ramadhani, menyoroti tema sifat Angkara Murka dalam karyanya. Zito, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa karyanya menggambarkan perlawanan terhadap keserakahan dan sifat negatif yang kadang muncul dalam diri manusia.
“Karya saya bercerita tentang perlawanan terhadap keserakahan sifat Angkara Murka. Bagaimana memberantas kejahatan dengan sifat itu,” ujar Zito.
Sifat Angkara Murka sendiri merujuk pada sifat negatif yang muncul dari hawa nafsu dan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara yang salah. Namun, menurut Zito, tidak semua manifestasi sifat ini bermaksud jahat.
“Bagi saya, tidak semua sifat yang didasari hawa nafsu, terutama Angkara Murka, bertujuan untuk mencelakai; bisa juga digunakan untuk kebajikan, memberantas kejahatan,” tambahnya.
Dalam menciptakan lukisannya, Zito menggunakan teknik nyawi, metode khusus yang menghasilkan tekstur detail pada karya. Ia menekankan penggunaan bambu yang diruncingkan, kemudian dipukul dengan batu untuk menciptakan efek halus dan unik pada ujung bambu, menambah karakter khas pada lukisan.
Zito pun berharap karyanya mampu dimaknai dengan baik oleh pengunjung, sehingga pesan moral dan emosional dari lukisan bisa tersampaikan.
Terkait tajuk “Seni Lupa”, Ketua pelaksana pameran, Aditya Eka Putra, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan plesetan dari kata “Seni Rupa”. Nama ini mencerminkan realita kehidupan mahasiswa yang sering lupa dengan tenggat tugas akhir akibat kesibukan akademik dan kegiatan lainnya, termasuk para delapan mahasiswa program S1 Pendidikan Seni Rupa UM yang sempat melupakan tenggat waktu pengumpulan karya seni ini.
“Karena kita lupa dengan deadline tugas akhir yang seharusnya sudah kita garap sejak lama. Kita langsung memproses karya masing-masing biar dapat segera dipamerkan, dan segera sidang,” jelasnya.
Pameran yang berlangsung selama enam hari, mulai 8 hingga 13 November 2025, tersebut dibuka untuk umum, dengan jam kunjungan mulai pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB.
Pameran “Seni Lupa” tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya seni mahasiswa, tetapi juga sarana edukasi dan refleksi sosial. Pengunjung diajak untuk merasakan perjalanan emosional, memahami makna di balik setiap goresan kuas, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang diangkat dalam karya seni kontemporer. (fyi/kun)






