Surabaya (beritajatim.com) – Dalam refleksi satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua DPC Partai Gerindra Kota Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso menyebut program dan komitmen pemerintah di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kerakyatan selaras semangat Sumpah Pemuda.
Dia menyampaikan hal itu dalam diskusi Ngomen (Ngopi Marhaenis) bersama GMNI Surabaya bertema “Refleksi Sumpah Pemuda: Ngomenin tentang 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” di Surabaya.
“Kawan-kawan ketika kita merefleksikan satu tahun kepemimpinan Prabowo–Gibran, yang perlu kita tanyakan adalah apakah sudah selaras dengan semangat pemuda dan cita-cita para pendiri bangsa dalam Pancasila dan UUD 1945,” ujar Cahyo.
Anggota Komisi E DPRD Jatim ini menjelaskan bahwa penilaian terhadap arah pemerintahan harus merujuk pada dokumen resmi pembangunan, yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Menurut dia, ketiadaan GBHN membuat konsistensi program sangat bergantung pada visi pemerintahan terpilih.
“Kalau kita mau menilai apakah pemerintahan ini selaras dengan semangat Sumpah Pemuda, kita bisa mencermatinya melalui RPJMN. Di situ terlihat komitmen kebijakan yang ingin diwujudkan,” katanya.
Pada sektor kesehatan, Cahyo menyampaikan bahwa pemerintahan Prabowo–Gibran telah memperluas akses pelayanan kesehatan, termasuk program pemeriksaan kesehatan gratis. Dia menilai langkah tersebut menunjukkan keberpihakan negara pada masyarakat luas.
“Bagaimana beliau berkomitmen bahwa semua masyarakat harus mendapatkan akses kesehatan yang baik dan layak. Itu adalah komitmen yang sedang dijalankan,” tegasnya.
Di bidang pendidikan, Cahyo mencontohkan hadirnya Sekolah Rakyat yang memberikan akses pendidikan dan kebutuhan dasar kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Dia menyebut program ini membantu membentuk masa depan yang lebih setara bagi anak-anak di Surabaya.
“Ada orang tua di Surabaya dengan pendapatan Rp500 ribu per bulan yang sekarang bisa menyekolahkan anaknya secara layak. Itu bentuk keberpihakan yang harus kita apresiasi,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan yang inklusif dan merata akan menentukan masa depan generasi muda. Pendidikan yang baik, menurutnya, harus dapat diakses siapa pun tanpa memandang latar belakang ekonomi.
“Kalau kita bicara masa depan, ya dimulai dari pendidikan yang merata. Semua anak harus punya kesempatan yang sama untuk tumbuh,” ucapnya.
Selain itu, Cahyo menilai pengembangan Koperasi Merah Putih menjadi langkah strategis untuk membangun ekonomi masyarakat dari tingkat bawah. Dia menyebut model koperasi ini memungkinkan masyarakat untuk tumbuh secara mandiri dan menciptakan lapangan kerja.
“Membangun ekonomi tidak bisa hanya dari atas ke bawah. Presiden Prabowo ingin membangun dari akar, dari masyarakat di tingkat paling bawah. Karena itu lahirlah Koperasi Merah Putih sebagai ruang tumbuhnya ekonomi kerakyatan,” jelasnya.
Cahyo menggarisbawahi pentingnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi masa depan generasi muda. Dia menyebut program tersebut memastikan anak-anak bisa belajar dalam kondisi tubuh yang sehat dan bertenaga.
“MBG adalah komitmen agar tidak ada anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Ini tentang kesehatan dan masa depan generasi kita. Negara harus hadir di situ,” tegasnya.
Di akhir diskusi, Cahyo mengajak mahasiswa tetap kritis dan mengambil peran sebagai pengawal kebijakan publik. Dia menilai generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan pemerintah bila ada tantangan dalam pelaksanaan program.
“Tentu dalam implementasi masih ada tantangan atau butuh penyempurnaan. Disitulah saya berharap peran kawan-kawan sebagai pejuang pemikir muda untuk terus memberikan kritik maupun kontrol agar bersama kita mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaulat,” pungkasnya.[asg/aje]






