Jember (beritajatim.com) – Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap pasar modal masih rendah. Literasi yang kuat menjadi fondasi memahami peluang investasi.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Inarno Djajadi menyampaikannya, dalam Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu, di Lantai 5 Gedung Soedjarwo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (14/10/2025).
Menurut Inarno, tingkat literasi pasar modal di Indonesia pada 2025 masih berada pada angka 17,78 persen. “Sementara tingkat inklusi hanya 1,34 persen berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Unej, Rabu (15/10/2025).
Angka tersebut, kata Inarno, menunjukkan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen pasar modal. “Padahal, pasar modal berperan penting dalam pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Padahal, pertumbuhan jumlah investor pasar modal di Indonesia mencapai 24,06 persen dengan penambahan 2,7 juta investor baru pada 2025.
Jawa Timur salah satu wilayah dengan pertumbuhan investor tertinggi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat, 113 ribu Single Investor Identification (SID) berasal dari Kabupaten Jember.
Inarno mengingatkan mahasiswa Universitas Jember untuk berhati-hati terhadap investasi ilegal dan memahami prinsip legal dan logis sebelum memilih produk keuangan. Penting bagi siapapun, menurut Inarno, untuk memastikan setiap produk memiliki izin dari otoritas berwenang serta memahami risiko dan manfaat yang ditawarkan.
“Literasi yang kuat akan menjadi pondasi agar mahasiswa tidak hanya memahami peluang investasi, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam memperkuat perekonomian bangsa,” katanya. [wir]






