Malang (beritajatim.com) – Gelaran Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 yang berlangsung selama lima hari di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditutup dengan meriah pada Sabtu (11/10/2025).
Kontingen DKI Jakarta berhasil keluar sebagai juara umum, namun sorotan utama tertuju pada pesan kuat dari pemerintah: mimpi besar agar para talenta sains Indonesia kelak menjadi peraih Nobel pertama bagi bangsa.
Setelah melalui persaingan ketat, tim DKI Jakarta sukses mengukuhkan posisinya di peringkat pertama dengan 79 medali (17 emas, 31 perak, dan 31 perunggu). Posisi kedua diraih oleh tuan rumah Jawa Timur dengan 61 medali (12 emas, 18 perak, dan 31 perunggu).
Piala juara umum diserahkan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., didampingi oleh Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam upacara penutupan yang digelar di Dome UMM.
Dalam sambutannya, Fajar Riza Ul Haq menyampaikan selamat sekaligus menanamkan visi besar kepada para peserta OSN. Ia menyoroti fakta bahwa hingga kini belum ada anak bangsa yang meraih Penghargaan Nobel, simbol tertinggi dalam bidang sains dan kemanusiaan.
“Di Asia, negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, bahkan tetangga kita Vietnam sudah memiliki peraih Nobel. Harapan kami, harapan pemerintah, ada pada adik-adik yang hadir malam ini. Dari ruangan ini akan lahir para ilmuwan dan cendekiawan berintegritas—calon penerima Nobel dunia,” ujarnya penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan talenta sains di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) melalui berbagai program beasiswa dan riset.
Menurutnya, penguasaan sains dan teknologi adalah tulang punggung kemajuan bangsa.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Fajar menekankan pentingnya integritas dan kejujuran sebagai fondasi utama dalam dunia akademik. “OSN bukan hanya soal medali, tapi tentang karakter. Kami tidak memberikan toleransi terhadap kecurangan. Yang terpenting adalah konsistensi memperjuangkan idealisme, sportivitas, dan kejujuran,” tegasnya.
Fajar juga memotivasi para peserta yang belum memperoleh medali, dengan mencontohkan kisah Albert Einstein dan Mongi Bawendi—peraih Nobel Kimia 2023—yang pernah gagal di masa muda. “Buktikan, jika malam ini aku tidak mendapat medali, di masa depan aku akan lebih hebat dari mereka yang mendapatkannya,” pesannya disambut tepuk tangan peserta.
Sebagai tuan rumah, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan kebanggaannya dan menegaskan komitmen kampus dalam pengembangan sains dan teknologi. “Adik-adik beruntung merasakan atmosfer kampus juara seperti UMM. Kami masuk 20 besar kampus terbaik di Indonesia versi Webometrics dan Times Higher Education,” ungkapnya.
UMM, lanjutnya, telah mengembangkan Direktorat Scientech untuk mengintegrasikan ilmu STEM dengan ilmu sosial, serta memiliki Center of Excellence dan Center for Future Works guna menjembatani mahasiswa dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja masa depan.
“Pendidikan di UMM berlandaskan filosofi Insan Paripurna—pionir kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami menyambut hangat para peserta OSN yang ingin melanjutkan studi di UMM untuk mewujudkan cita-citanya,” pungkas Nazaruddin. [kun]






