Surabaya (beritajatim.com) – Upaya mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah di kalangan akademisi mendapat angin segar. Bank Muamalat (BM) secara resmi meluncurkan kartu tanda mahasiswa (KTM) dalam format co-branding bersama Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (Unair).
Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan apresiasi bagi Bank Muamalat yang dapat menyertai salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Ia berharap KTM co-branding ini akan memudahkan mahasiswa UB dan Unair dalam melakukan transaksi keuangan sesuai prinsip syariah, bahkan dapat berfungsi sebagai kartu alumni.
“Kartu ini adalah bagian dari hak konstitusier dan KPI Bank Syariah untuk meningkatkan kecerdasan finansial. Mahasiswa yang menjadi nasabah Bank Muamalat harusnya memiliki kecerdasan finansial yang semakin bertambah,” ujar Imam Teguh Saptono.
Potensi Kolaborasi Luas di Luar Perbankan
Imam Teguh Saptono menambahkan, Bank Muamalat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan UB dan Unair tidak hanya terbatas pada layanan perbankan. Diskusi telah mencakup pengembangan keuangan sosial seperti wakaf, infak, dan sedekah (ZISWAF), serta pengembangan skema seperti manfaat premi wakaf yang pernah sukses dengan institusi lain. Selain itu, potensi pendanaan untuk sarana dan prasarana di kedua kampus juga menjadi fokus.
Ilhamudiin S Psi MA, Perwakilan Rektorat Universitas Brawijaya menyambut baik inisiatif ini, menegaskan komitmen kemitraan UB untuk berkolaborasi dalam berbagai program positif.
UB merupakan salah satu universitas terbesar di Indonesia dari segi populasi mahasiswa, dengan jumlah mendekati 80.000 mahasiswa. Populasi ini tersebar dari seluruh Indonesia, termasuk banyak mahasiswa dari luar Jawa Timur (sekitar 70%), dengan sebaran yang signifikan dari Kalimantan.
Perwakilan UB menekankan bahwa memiliki KTM co-branding memberikan nilai tambah berbeda bagi mahasiswa. Selain itu, lebih dari 80% mahasiswa UB adalah muslim dan banyak yang merupakan alumni pondok pesantren atau madrasah dengan latar belakang agama yang kuat. Hal ini menjadikan sistem keuangan berbasis syariah sangat relevan.
“berharap kerja sama ini dapat mengembangkan iklim pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kualitas akademik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai luhur keagamaan,” tutup Ilhamuddin.[rea]






