Persebaya memang menang 1-0 atas Semen Padang, dalam pertandingan pekan keenam Super League 2025-26, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (19/9/2025). Di hadapan 9.321 orang penonton, gol Bruno Moreira pada menit 78 memecah kebuntuan.
Namun tak perlu seorang pandit atau analis sepak bola untuk mengatakan betapa membosankannya permainan Persebaya. Kita cukup mengecek akun selebriti Instagram Andi Sugiarto Budiman yang mengaku mengantuk saat menyaksikan pertandingan itu.
“Kita senang Persebaya menang. tapi kita juga ngantuk melihat permainan seperti ini,” katanya di awal video.
Tak butuh seorang pandit seperti Jamie Carragher untuk melihat betapa besarnya ketergantungan Persebaya terhadap Francisco Rivera.
“Aku merasa ketika gak ono Rivera, malah bingung di tengah. Ketika semua lini bingung, penontonnya ikut bingung. Membangun serangan sing gampang dipatahkan. Pemainnya banyak sing kepleset,” kata Andi.
Francisco Rivera terkena kartu merah langsung saat Persebaya bertandang ke kandang Persib Bandung. Sejauh ini dia adalah pemain kunci yang menyumbangkan dua gol dan dua assist.
Andi juga melontarkan pertanyaan yang menghantui semua Bonek. “Tuku striker tapi gak diturunkan lapo (Beli striker tapi tidak diturunkan kenapa)?” katanya, merujuk pada Diego Mauricio, ujung tombak asal Brasil yang berusia 34 tahun (ya benar, 34 tahun!).
Dari empat pertandingan sejak dia resmi menjadi bagian dari Persebaya, Mauricio hanya sekali dalam skuat, yakni saat melawan Persib. Itu pun dia hanya berada di bangku cadangan. Sisanya dia tidak pernah dibawa oleh pelatih Edu Perez.
Mauricio adalah pemain impor kesepuluh Persebaya. Data dari Transfermarkt menyebutkan, dia pernah bermain sebelas kali untuk tim Brasil U20 dan mencetak tiga gol. Performa puncaknya saat memperkuar Odisha, klub Liga Super India, dengan mencetak 57 gol dan 19 assist dalam 110 pertandingan.
Catatan itu cukup menjanjikan. Namun seperti biasa, hanya merpati yang tak pernah ingkar janji. Sejarah Persebaya sering kali membuktikan: yang menjanjikan tak selamanya bisa dibuktikan.
Dan Andi juga merekam kekecewaan Presiden Persebaya Azrul Ananda di tribun VVIP. “Mainnya jelek banget, mohon maaf,” kata Ulik, panggilan akrab Azrul.
Ian Graham dalam buku How to Win The Premier League mengatakan, setiap pelatih telah mendengar ucapan pemilik klub bahwa dia akan dinilai dari proses dan performa, bukan hasil. Namun beberapa bulan kemudian, banyak dari pelatih yang mendengarkan pernyataan itu akhirnya dipecat. Dengan reputasi Persebaya memecat pelatih di tengah musim kompetisi, ada baiknya Edu Perez lebih mawas diri dan mawas taktik, tak hanya mengandalkan peruntungan ‘anak soleh’.
Dari lima pertandingan yang telah dilakoni, performa Persebaya naik turun. Penampilan menawan saat menekuk Bali United 5-2, tidak pernah bisa benar-benar terulang. Orang jadi bertanya-tanya, apakah Persebaya sedang beruntung saja atau memang posisi keempat klasemen sementara saat ini diraih karena kemujaraban taktik Edu Perez.
Persebaya pernah berada di posisi dicurigai ‘sedang beruntung saja’, saat memimpin klasemen Liga 1 musim 2024-25 selama putaran pertama. Beruntung itu bagus. Menurut Ian Graham: success owes as much to luck as to skill.
Dengan mengutip Kahneman, Graham mengatakan: rumus sukses adalah ‘skill plus luck’ dan rumus kesuksesan hebat adalah ‘lebih sedikit skill dan lebih banyak keberuntungan’.
Masalahnya tidak ada yang bisa mengontrol stok keberuntungan. Atau kalau menyitir ucapan Andi Sugiarto Budiman kepada Azrul Ananda: ‘Jimatku hari ini berfingsi, tapi sampai titik darah penghabisan’.
Maka, di luar urusan keberuntungan, Ian Graham juga mengatakan: If your players are better than your opponents, 90 per cent of the time you will win. Pertanyaannya: apakah para pemain Persebaya lebih baik daripada kualitas pemain lawan.
Sekali lagi rekrutmen pemain menjadi kunci. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana model rekrutmen pemain oleh manajemen Persebaya. Namun dengan tidak segera diturunkannya Mauricio, tentu wajar jika kemudian banyak orang bertanya-tanya: benarkah Persebaya telah merekrut pemain berkualitas yang bisa mempertebal pundi-pundi gol.
Atau justru kembali terpeleset seperti saat meekrut Dejan Tumbas. Maksud hati mencari tukang gedor lini depan, tapi berujung pada pemain yang diparkir di posisi bek kiri.
Tidak aneh sebenarnya memasang pemain tidak pada posisi naturalnya. Arne Slot di Liverpool melakukannya kepada Dominik Szoboszlai dengan mengoper posisi dari gelandang ke bek kanan. Namun ini bukan perjudian tanpa kalkulasi.
Sejak awal, Liverpool selalu mencari pemain yang versatile atau serbabisa dan bermain di sejumlah posisi di luar posisi natural mereka. Statistik dan data menjadi acuan. Maka saat Szobo bermain bagus di posisi bek, ofensif sekaligus kuat dalam bertahan, dahi kita tak perlu berkerut.
Baiklah. Masih ada 29 pertandingan musim ini. Kita menanti bagaimana Edu Perez menang dalam adu taktik dan bukan hanya adu peruntungan. [wir]






