Malang (beritajatim.com) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengambil langkah penting dalam upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia. Melalui ‘Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelas Mahir Pengajaran BIPA’ yang digelar di Hotel Swiss-Belinn Malang pada 8–11 September 2025, pemerintah mengumpulkan puluhan pengajar untuk mempersiapkan era baru standarisasi dan sertifikasi profesi.
Acara ini menjadi fondasi untuk membangun standar kompetensi yang diakui secara nasional dan internasional bagi para pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Koordinator BIPA dari Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iyus Yusuf, S.Hum., menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi para pengajar BIPA di Indonesia, yang kualitasnya saat ini masih beragam.
“Tujuan kami adalah meningkatkan kompetensi para pengajar BIPA dalam hal pedagogi, profesional, serta pemahaman keindonesiaan. Ini adalah bentuk fasilitasi dari Badan Bahasa agar para pengajar dapat memberikan pembelajaran BIPA yang lebih berkualitas di institusi masing-masing,” ujar Iyus Yusuf saat ditemui di lokasi acara, Senin (8/9/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta, yang terdiri atas 21 dari Universitas dan Perguruan Tinggi di Wilayah Malang Raya, sisanya dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur 1 org, dan yang lainnya 13 orang dari Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra
Salah satu isu krusial yang diangkat adalah belum adanya sertifikasi resmi dari pemerintah untuk profesi pengajar BIPA. Menurut Iyus, hal ini menjadi perhatian utama pihaknya.
“Hingga saat ini belum ada sertifikasi resmi. Oleh karena itu, kami telah menyelesaikan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang pengajar BIPA,” jelasnya.
Dokumen standar tersebut, yang akan segera disahkan oleh Menteri, akan menjadi landasan untuk mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bagi pengajar BIPA. “Harapan kami, dengan adanya standar ini, semua pengajar BIPA di Indonesia memiliki kompetensi yang seragam dan terukur,” tambahnya.
Minat dunia terhadap Bahasa Indonesia terus meningkat. Iyus mengungkapkan bahwa sejak 2015, Badan Bahasa telah memfasilitasi pengajaran BIPA di 57 negara, mencakup benua Asia, Eropa, Amerika, Afrika, hingga Australia.
“Permintaan sangat besar datang dari Amerika dan Australia. Di Australia, Bahasa Indonesia bahkan menjadi mata pelajaran bahasa asing pilihan di tingkat sekolah dasar hingga menengah,” katanya.
Meskipun jumlah pengajar BIPA di dalam negeri relatif banyak, tantangan sebenarnya adalah memenuhi kebutuhan pengajar yang berkualitas di luar negeri. Setiap tahunnya, pemerintah menugaskan sekitar 150-200 pengajar untuk bertugas di berbagai negara, baik secara luring maupun daring.
Menghadirkan Pakar Kelas Dunia
Untuk memastikan kualitas bimtek ini, Badan Bahasa tidak tanggung-tanggung dengan menghadirkan tiga narasumber pakar BIPA dari kancah internasional.
Prof. Habib Zerbaliev dari Azerbaijan, yang akan mengupas tuntas isu tata bahasa. Prof. Koh Young-hun dari Korea Selatan, seorang ahli dalam teknologi dan e-learning untuk pembelajaran bahasa. Prof. George Quinn dari Australia, yang akan membahas aspek budaya dalam pembelajaran BIPA.
Kehadiran ketiganya menegaskan keseriusan pemerintah dalam menyusun kurikulum dan standar pengajaran yang relevan dengan perkembangan global.
Tidak hanya pengajarnya, lembaga penyelenggara program BIPA juga menjadi sorotan. Ketua Asosiasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA), Prof. Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd., yang juga menjadi narasumber, menekankan pentingnya standarisasi institusi.
“Materi saya adalah tentang standarisasi pengelolaan program BIPA. Lembaga penyelenggara, seperti universitas, perlu memiliki standar yang jelas, mulai dari kualifikasi dosen hingga sistem penilaian,” ujar Prof. Gatut.

Menurutnya, standarisasi ini akan mempersiapkan lembaga untuk proses akreditasi di masa depan. “Gambaran kami, dalam 1-2 tahun ke depan, lembaga-lembaga ini sudah mulai terdorong untuk memenuhi standar kualifikasi sehingga program BIPA mereka bisa terakreditasi secara nasional,” jelas Prof Gatut.
Kesannya yang pasti senang dan sangat bersyukur karena bisa menjadi bagian kegiatan ini. Menurut saya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas pengajar, tetapi juga ruang refleksi bersama terkait tantangan dan peluang untuk memperluas dan memperkuat penyelenggaraan program BIPA di masing-masing institusi kami.
Harapannya sih agar kegiatan seperti ini bisa terus diselenggarakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pengajar.
Selain itu, perlu ada tindak lanjut juga dari acara ini seperti komunitas praktisi atau forum berbagi praktik baik antar pengajar dari berbagai wilayah sehingga keseragaman dan keselarasan pembelajaran BIPA bisa tercapai, khusunya untuk mendukung standardisasi pengelolaan BIPA seperti topik sesi 1 tadi.
Yohanna Nirmalasari salah satu peserta bimbingan teknis merasa bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas pengajar, tetapi juga ruang refleksi bersama. Acara ini juga untuk memperluas dan memperkuat penyelenggaraan program BIPA di masing-masing institusi.
“Harapannya agar kegiatan seperti ini bisa terus diselenggarakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pengajar. Selain itu, perlu ada tindak lanjut juga dari acara ini seperti komunitas praktisi atau forum berbagi praktik baik antar pengajar dari berbagai wilayah sehingga keseragaman dan keselarasan pembelajaran BIPA bisa tercapai, khususnya untuk mendukung standarisasi pengelolaan BIPA,” ujar dosen Universitas Ma Chung yang pernah mengajar BIPA di Austria itu. (dan/but)






