Pamekasan (beritajatim.com) – Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, komitmen mengkolaborasikan sains, teknologi dan agama dalam satu kesatuan yang utuh melalui konsep penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara integratif.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Madura, Prof Dr Atiqullah dalam Orientasi Akademik yang mengusung tema ‘Membangun Integrasi Ilmu Pengetahuan Islam untuk Peradaban Dunia’, di auditorium universitas yang beralamat di Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan, Pamekasan, Senin (1/9/2025).
Dalam program tersebut terdapat sebanyak 225 mahasiswa baru program pascasarjana, meliputi sebagai 182 mahasiswa program magister dari lima program studi (prodi) berbeda, meliputi Prodi Ekonomi Syariah (ESy), Hukum Keluarga Islam (HKI), Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), serta Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI),
Selain itu juga terdapat sebanyak 43 mahasiswa baru program doktor, meliputi sebanyak 10 mahasiswa prodi Ilmu Syariah (IS), serta sebanyak 33 lainnya mahasiswa baru prodi Studi Islam (SI).
“Pertama kami ingin menyampaikan selamat datang kepada mahasiswa baru program pascasarjana, selamat datang di kampus Taneyan Lanjhang UIN Madura,” kata Direktur Pascasarjana UIN Madura, Prof Dr Atiqullah.
Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menyampaikan jika jumlah mahasiswa baru di institusi yang dipimpinnya relatif lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. “Hal ini tidak lepas dari usaha semua pihak, termasuk kerjasama dengan sejumlah pesantren di Madura,” ungkapnya.
“Kedepan juga kita harapkan seluruh mahasiswa termasuk para alumni dapat membawa pencerahan dan kemajuan, baik bagi institusi maupun bagi masyarakat secara umum sebagaimana visi yang kami usung untuk menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan Islam Integratif,” imbuhnya.
Senada juga disampaikan Rektor UIN Madura, Saiful Hadi yang menilai maba angkatan 2025-2026 sebagai mahasiswa istimewa. “Mahasiswa baru tahun ini memiliki status sangat istimewa, termasuk mahasiswa program magister dan doktor seiring dengan perubahan status dari IAIN Madura menjadi UIN Madura,” kata Saiful Hadi.
“Saat ini UIN Madura memperkenalkan konsep yang menggabungkan warisan budaya Madura, melalui visi pendidikan modern; Asta Helix Heutagogi Taneyan Lanjhang yang mengandung 8 (delapan) unsur pokok seperti arah mata angin,” jelasnya.
Pihaknya menilai jika hal tersebut juga selaras dengan Asta Cita yang menjadi cita-cita mulai dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. “Ini bukan kebetulan dan konsep ini bukan sekedar paparan akademik semata, tapi gagasan ini hadir sebagai jembatan antara tradisi dan inovasi,” bebernya.
“Konsep Taneyan Lanjhang merupakan model pemukiman tradisional Madura, yang sarat akan makna dan menjadi titik tolak filosofis. Sekaligus menjadi gambaran dan cerminan tentang struktur sosial, nilai dan kebersamaan, serta dapat menjadi fondasi kokoh bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Karena itu pihaknya sangat berharap keberadaan mahasiswa program pascasarjana, dapat menambah khazanah keilmuan tentang Taneyan Lanjhang melalui penerapan nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Semoga kedepan dapat melahirkan khazanah keilmuan yang kuat dengan konsep Taneyan Lanjhang berbasis local wisdom,” pungkasnya. [pin/kun]






