Surabaya (beritajatim.com) – Jagat media sosial tengah heboh usai Jerome Polin mengungkap tawaran iklan kampanye damai dengan bayaran fantastis. Melalui akun Instagram pribadinya, YouTuber sekaligus influencer tersebut membagikan isi pesan yang menawarkan bayaran hingga Rp150 juta hanya untuk satu kali unggahan konten di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, Jerome memperlihatkan detail penawaran yang ia terima. Tawaran itu berupa paid promote untuk kampanye bertajuk Ajakan Damai Indonesia, yang dijadwalkan tayang serentak di Instagram Reels pada 1 September 2025 pukul 15.00 WIB.
“Halo kak, disini kami ingin menawarkan paid promote, untuk satu video konten dari kami apakah berminat kak? PP (RTP) ajakan damai Indonesia. Ajakan untuk damai dari pemerintah, DPR, Brimob ojol dan Masyarakat,” tulis penawaran yang diberikan pada Jerome.
Pihak pengiklan bahkan menegaskan bahwa konten harus mengikuti arahan, menggunakan hashtag tertentu, serta dilarang memakai kata-kata negatif, SARA, maupun teks clickbait yang sama.
Meski tawarannya menggiurkan, Jerome dengan tegas menolak. Ia justru meluapkan kemarahannya karena merasa uang rakyat digunakan tidak sesuai peruntukan.
“Uang rakyat dipakai buat bikin narasi seolah semuanya baik-baik saja. Jangan sampai lengah, jangan terpecah belah, kawal terus,” tulis Jerome dalam unggahan yang ia sertakan dengan ekspresi geram.
Jerome juga mengingatkan para influencer dan kreator konten lain agar tidak menerima tawaran serupa. Menurutnya, transparansi dalam penggunaan anggaran negara jauh lebih penting daripada sekadar menggencarkan kampanye yang terkesan hanya pencitraan.
“Dear agency dan KOL, aku mohon kali ini jangan korbankan rakyat buat kepentingan kalian sendiri,” tegasnya, Jumat (29/8/2025).
Sebelumnya, Jerome memang dikenal cukup vokal dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan DPR. Ia menilai kondisi Indonesia saat ini masih banyak masalah yang belum terselesaikan, sehingga penggunaan uang rakyat seharusnya lebih bijak.
Jerome bahkan menyinggung soal kesejahteraan guru di Indonesia. Menurutnya, dana sebesar Rp150 juta yang ditawarkan untuk satu kali unggahan buzzer akan jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan bagi peningkatan gaji pendidik.
“Kalau uang Rp150 juta itu dipakai buat naikin gaji guru Rp10 juta per orang, sudah bisa bikin 15 guru hidup layak selama sebulan,” tulis Jerome menutup kritiknya. (mnd/ian)






