Malang (beritajatim.com) – Polemik mahasiswa baru Universitas Brawijaya (UB) yang diterima di konsentrasi peminatan yang telah dihapus memasuki babak baru. Dekan Fakultas Vokasi (FV) UB secara tegas menolak dua opsi solusi yang diajukan oleh orang tua mahasiswa, dengan alasan terbentur oleh regulasi kementerian dan keterbatasan wewenang.
Penolakan ini merupakan respons langsung terhadap surat keberatan yang dilayangkan Mugiharto, orang tua dari Muhammad Mundzir Samudra Billah (NIM: 253140707111057), pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Dalam suratnya, Mugiharto mengajukan dua tuntutan sebagai jalan keluar atas masalah yang menimpa putranya:
- Merekomendasikan pindah ke Program Studi S1 Ilmu Komunikasi FISIP UB tanpa perubahan biaya IPI dan UKT.
- Merekomendasikan pindah ke universitas lain di Kota Malang yang memiliki jurusan sesuai minat Film dan Televisi.
Dikonfirmasi pada Jumat (29/8/2025), Dekan Vokasi UB, Dr. Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., menjelaskan bahwa kedua tuntutan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh pihaknya.
Untuk tuntutan pertama, ia menyatakan bahwa biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) tidak bisa disamaratakan antar program studi.
“Penentuan UKT dan IPI untuk setiap program studi sudah ditetapkan melalui Peraturan Menteri, sehingga tidak bisa diubah atau disamakan dengan prodi lain,” jelasnya.
Sementara untuk tuntutan kedua mengenai rekomendasi pindah ke universitas lain, ia menegaskan bahwa fakultasnya tidak memiliki yurisdiksi untuk melakukannya.
“Kami tidak punya kewenangan terhadap perguruan tinggi lain di luar Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Dengan penolakan ini, nasib Mundzir kembali ke titik awal. Opsi yang tersisa baginya adalah dua pilihan awal yang ditawarkan oleh pihak Vokasi UB: bertahan di Program Studi D3 Teknologi Informasi tanpa minat di Film dan Televisi atau pindah ke prodi lain di internal Vokasi seperti Administrasi Bisnis dan Keuangan Perbankan, yang keduanya tidak sesuai dengan minat awalnya.
Kasus yang berawal dari “error sistem” pada saat penerimaan mahasiswa baru ini menemui jalan buntu, menempatkan mahasiswa dan keluarganya dalam posisi sulit dan ketidakpastian mengenai masa depan akademiknya. [dan/beq]






