Surabaya (beritajatim.com) – Terminal Purabaya, yang selama ini lekat dengan stigma sarang calo, berkomitmen melakukan rebranding besar-besaran untuk mengubah citra menjadi terminal ramah penumpang. Kepala Terminal Purabaya, Eko Hadi Prasetyo, menegaskan pihaknya tidak ingin Purabaya terus dikenal sebagai tempat yang tidak nyaman bagi pengguna transportasi umum.
“Memang dari dulu orang tahu Purabaya ini terminal yang penuh calo. Tapi kami tidak tinggal diam. Sekarang kami berbenah, sedikit demi sedikit, supaya penumpang yakin masuk terminal itu aman dan nyaman,” kata Eko, Senin 25 Agustus 2025.
Langkah perbaikan yang sudah dilakukan salah satunya adalah penataan fasilitas dasar, seperti toilet umum. Menurut Eko, perbaikan sederhana ini penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa terminal benar-benar memperhatikan kenyamanan penumpang.
“Kalau fasilitasnya bersih dan layak, itu jadi awal orang menilai terminal lebih manusiawi,” ujarnya.
Selain itu, Purabaya juga mulai mendorong penggunaan tiket bus secara daring (online). Dengan sistem ini, penumpang bisa memesan kursi langsung dari rumah tanpa perlu antre atau berhadapan dengan calo.
“Kalau tiket online kan lebih praktis, pilih kursi sendiri, jadi tidak ada interaksi dengan pihak ketiga. Itu bisa menutup celah percaloan sekaligus meningkatkan kenyamanan,” jelasnya.
Namun, implementasi tiket online juga membutuhkan penyesuaian agar tidak menimbulkan kecemburuan dengan penjual tiket offline. Pihak terminal sudah mengusulkan penyamarataan fasilitas loket, baik untuk layanan online maupun offline.
“Kalau loketnya sama, tidak ada diskriminasi. Jadi semua operator merasa adil dan penumpang pun tenang,” tambahnya.
Eko juga menyadari, citra buruk Purabaya tidak bisa dihapus dalam waktu singkat. Apalagi, pekan lalu sempat terjadi insiden seorang calo diamuk penumpang di pintu keluar terminal yang viral di media sosial.
“Itu jadi cambuk bagi kami. Justru insiden itu mengingatkan bahwa masyarakat ingin perubahan nyata. Dan kami akan jawab dengan kerja,” katanya.
Untuk memperkuat keamanan, Purabaya mengajukan pendampingan resmi dari aparat TNI dan Polri agar patroli bisa lebih intens. Dengan begitu, penumpang makin yakin bahwa terminal diawasi ketat dan bebas dari gangguan.
“Kalau ada surat tugas resmi, aparat bisa standby di terminal. Itu penting terutama jelang Natal dan Tahun Baru ketika arus penumpang meningkat,” jelasnya.
Meski begitu, Eko menekankan bahwa pembenahan Purabaya bukan hanya soal calo. Lebih jauh, pihaknya ingin menghadirkan terminal yang benar-benar jadi wajah transportasi modern di Surabaya.
“Kami ingin orang masuk terminal itu tidak waswas. Yang ada justru merasa aman, nyaman, dan percaya dengan pelayanan kami,” ujarnya.
Dengan kombinasi perbaikan fasilitas, digitalisasi tiket, dan kolaborasi pengamanan, Eko optimistis citra Purabaya bisa berubah.
“Kami tahu hilangkan stigma itu butuh waktu. Tapi dengan usaha bertahap, insyaallah Purabaya akan dikenal bukan lagi terminal sarang calo, tapi terminal ramah penumpang,” pungkasnya. [ram/beq]






