Blitar (beritajatim.com) – Dikenal sebagai produsen unggas terbesar di Jawa Timur, Kabupaten Blitar kini tak hanya puas menjadi pemasok telur.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar tengah serius menggenjot sektor olahan unggas siap saji agar mampu bersaing di pasar domestik dan merambah peluang ekspor.
Menurut data dari Jawa Timur Dalam Angka 2025, produksi daging unggas provinsi ini mencapai lebih dari 580 ribu ton.
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Blitar menjadi kontributor utama, dengan catatan produksi 8.176 ton ayam petelur dan 1.643 ton ayam buras di tahun 2024. Tak hanya itu, populasi unggas lainnya juga sangat besar, mencakup lebih dari 1,3 juta ekor bebek dan 4,2 juta ekor puyuh.
Dengan potensi melimpah ini, Pemkab Blitar ingin memastikan produk unggas tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang memenuhi standar pasar global.
Sebagai wujud komitmen, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Blitar mengadakan pelatihan juru masak unggas yang bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui program “Sang Kapten” atau Sertifikat Angkatan Kerja Kompeten.
Plt Kepala Disnaker Kabupaten Blitar, Nanang Adi Putranto menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari visi misi Bupati dan Wakil Bupati untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM).
“Kegiatan ini menjadi alat untuk meningkatkan kompetensi yang arahnya bersertifikat BNSP,” ujarnya, Kamis (21/08/2025).
Pelatihan vokasi yang berlangsung dari 7-19 Agustus 2025 lalu itu diikuti oleh 20 peserta, yang terdiri dari lima keluarga petani tembakau dan 15 masyarakat umum. Mereka tidak hanya belajar teknik pengolahan modern dan tradisional, tetapi juga mendalami aspek sanitasi, keamanan pangan, pengemasan, hingga sertifikasi.
“Program Sang Kapten adalah komitmen kami untuk mencetak tenaga kerja siap kerja dan tersertifikasi,” tegas Nanang.
Setelah mengikuti pelatihan, para peserta menjalani uji kompetensi BNSP pada 20 Agustus 2025 dan akan melanjutkan dengan tahap magang kerja hingga 26 Agustus. Sertifikasi BNSP yang mereka peroleh akan diakui secara nasional. Ini membuka peluang luas, baik untuk bekerja di restoran, hotel, catering, maupun membuka usaha kuliner sendiri.
Nanang menekankan, pelatihan ini sangat penting untuk mengubah produk unggas Blitar menjadi produk siap saji yang higienis dan berkualitas tinggi, sesuai standar keamanan pangan nasional maupun internasional. Hal ini secara langsung akan memperkuat daya saing produk Blitar di pasar modern dan ekspor.
“Dengan pelatihan dan sertifikasi, kami berharap akan tumbuh wirausaha dan industri kuliner unggas yang mampu memproduksi menu khas dan olahan beku,” pungkasnya. (owi/ted)






