Lamongan (beritajatim.com) – Nilai ekspor Kabupaten Lamongan pada tahun ini diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan capaian pada tahun 2024. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Lamongan, Anang Taufik, menjelaskan bahwa faktor global menjadi pemicu utama tren tersebut.
“Ekspor terakhir data tahun 2024 sebesar Rp20,7 triliun, sedangkan tahun 2025 belum bisa dihitung. Hitungnya nanti di akhir tahun 2025,” kata Anang, Rabu (20/8/2025).
Menurutnya, resesi ekonomi global, perang, kebijakan tarif, dan kondisi geopolitik menjadi penyebab melemahnya nilai ekspor. Meskipun demikian, Lamongan tetap mampu mempertahankan aktivitas ekspor dengan berbagai produk, mulai dari kerajinan tangan hingga olahan makanan.
Anang menegaskan bahwa sektor perikanan, khususnya olahan udang, masih menjadi komoditas unggulan Lamongan di pasar internasional. Produk tersebut terbukti menopang perekonomian daerah di tengah situasi pasar global yang tidak stabil.
“Ekspor kita memang cenderung menurun, tapi bukan hanya Indonesia yang terdampak, melainkan hampir seluruh negara. Faktor geopolitik dan pasar global sangat berpengaruh. Namun Lamongan tetap memiliki daya saing melalui potensi olahan ikan dan udang yang kuat,” ujarnya.
Saat ini, terdapat 10 negara tujuan ekspor utama produk Lamongan, yakni Jepang, China, Amerika Serikat, Thailand, Australia, Hongkong, Filipina, Kanada, Malaysia, Singapura, dan Nigeria.
Untuk menjaga stabilitas nilai ekspor, Pemkab Lamongan melalui Disperindag terus menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait. “Kami melakukan berbagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai ekspor, yakni dengan menggandeng pihak-pihak yang berkompeten dalam bidang ekspor, yakni dengan Bea Cukai dan Ekspor Center,” tambah Anang. [fak/beq]






