Lumajang (beritajatim.com) – Sepanjang tahun 2025 berjalan, sedikitnya ada sebanyak 43 orang warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meninggal dunia karena menderita penyakit tuberkulosis (TBC).
Angka tersebut merupakan catatan akumulasi Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Lumajang sejak bulan Januari sampai Juli 2025.
Sebelumnya sempat diberitakan, berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), ditemukan ada sebanyak 1.320 warga Lumajang yang menderita TBC sejak Januari hingga Juli 2025.
Sebanyak 108 di antaranya diketahui dialami anak usia 0–14 tahun. Sementara, sekitar 70 persen kasus berasal dari kelompok usia produktif 15–49 tahun.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes-P2KB Lumajang, dr Marshall Trihandono, mengatakan saat ini pencegahan dan pengendalian kasus TBC di wilayah Lumajang sedang menjadi atensi lintas sektor.
Terlebih, temuan kasus TBC di Lumajang tergolong masih cukup tinggi dan penderitanya didominasi dari kalangan usia produktif. Selain itu, terdapat juga puluhan kasus di antaranya yang sampai menyebabkan penderita meninggal dunia.
“Ini karena ada 43 kasus meninggal dunia karena TBC sepanjang tahun 2025, untuk pencegahan dan pengendalian TBC sudah diupayakan secara maksimal bersama lintas sektor dan memang menjadi atensi,” terang dr Marshall ketika dikonfirmasi, Rabu (13/8/2025).
Menurutnya, sebagai komitmen penuh terhadap penanganan kasus TBC, Pemkab Lumajang terus memperluas jangkauan skrining untuk meningkatkan deteksi dini dan memastikan pengobatan bisa optimal.
Selain bisa melakukan skrining di semua Puskesmas Lumajang, deteksi dini TBC juga dilakukan hampir di semua tempat umum seperti kawasan Lapas, pondok pesantren, lembaga pendidikan, atau titik-titik yang ada organisasi kemasyarakatan.
“Tempat-tempat umum yang berpotensi terjadi penularan TBC ini seperti kawasan juga kita sasar. Selain itu kita juga melibatkan tokoh agama dan masyarakat untuk mendorong yang beresiko TBC untuk periksa ke Puskesmas,” ungkapnya. [has/beq]






