Lumajang (beritajatim.com) – Kunjungan pasien poli Telinga Hidung Tenggorokan (THT) di rumah sakit umum daerah (RSUD) dr Haryoto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tercatat cukup tinggi.
Jumlah kunjungan pasien di poli THT RSUD dr Haryoto sepanjang bulan Juli 2025 tercatat mencapai 408 pasien. Meski begitu, angka kunjungan yang cukup tinggi ini dipastikan masih stabil.
Sebab faktor yang melatarbelakangi keluhan pasien THT cukup beragam, baik itu karena mendengarkan suara ekstrem maupun intensitas pendengaran yang mulai menurun karena faktor usia.
Wadir Pelayanan RSUD dr Haryoto Lumajang dr Novy Hamzah menyampaikan, jumlah kunjungan pasien di poli THT ini relatif stabil.
Sejak bulan Mei 2025, jumlah kunjungan pasien di poli THT diakui ada di angka 374. Kemudian, di bulan Juni 387 pasien dan Juli 2025 sebanyak 408 orang.
Menurutnya, belum bisa dipastikan apakah penyebab kunjungan pasien murni karena suara sound horeg. Sehingga, untuk memastikan penyebab pasti perlu penelitian lebih lanjut.
“Soal sound horeg yang menghasilkan suara sangat keras juga bisa mengganggu pendengaran jika terlalu sering didengarkan. Tapi, untuk menyimpulkan sebuah penyakit pendengaran yang disebabkan karena sound horeg perlu penelitian,” terang Novy, Selasa (12/8/2025).
Diakui, pasien yang tercatat berkunjung di poli THT mayoritasnya memiliki keluhan karena indra pendengaran menurun dan menumpuknya kotoran di telinga.
“Rata-rata pasien yang berobat karena pendengarannya menurun atau pun karena kotoran ditelinga,” tambahnya.
Sementara itu, rata-rata kunjungan pasien didominasi kalangan usia 45 tahun ke atas. “Himbauannya jangan terlalu sering mendengarkan suara keras. Pertama bisa membuat telinga sakit dan berdengung, jika sudah menjadi akut dan memecahkan gendang telinga harus dilakukan operasi. Ini membuat pendengaran jadi menurun,” ungkap Novy. (has/ted)






