Malang (beritajatim.com) – Kecanduan gawai di kalangan anak-anak sekolah dasar menjadi masalah yang kian mengkhawatirkan. Alih-alih sekadar melarang, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan solusi kreatif melalui inovasi robot edukasi bernama CubeBot.
Robot inovatif ini dirancang untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget sambil merangsang perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik mereka dengan cara menyenangkan. Muhamad Reza Pahlawan, salah satu anggota tim pengembang, menceritakan awal mula ide ini.
Ia dan rekan-rekannya melihat maraknya kasus anak-anak, terutama kelas 4, 5, dan 6 SD yang menghabiskan banyak waktu di depan layar. “Kami mencari cara supaya anak-anak tidak terlalu kecanduan gawai. Memang teknologi itu memudahkan, tapi ada dampak negatif yang harus kita waspadai, seperti berkurangnya interaksi fisik dan kreativitas mereka,” ungkapnya, Senin (14/8/2025).
Tim ini terdiri dari lima mahasiswa lintas disiplin: tiga dari Teknik Elektro, satu dari Akuntansi, dan satu dari Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Menurut Reza, kolaborasi ini sangat penting.
Mahasiswa teknik fokus merancang perangkat keras dan lunak, mahasiswa akuntansi mengelola perencanaan biaya, sementara mahasiswa PGSD memastikan desain pembelajaran sesuai kebutuhan anak-anak.
CubeBot bukan hanya sekadar robot mainan, melainkan bagian dari ekosistem pembelajaran interaktif. Robot ini diprogram menggunakan aplikasi MBlock, yang mengusung metode visual coding berbasis blok.
Anak cukup melakukan drag and drop blok-blok perintah untuk mengendalikan robot. “Anak-anak jadi lebih mudah memahami logika pemrograman tanpa langsung masuk ke coding rumit. Mereka belajar sambil bermain,” jelas Reza.
Saat ini, CubeBot sudah diperkenalkan di SD Muhammadiyah 8 Malang dan SD Muhammadiyah 4 Malang. Dalam waktu dekat, tim berencana menawarkan program ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah lain.
Keunggulan CubeBot terletak pada desainnya yang modular. Dalam satu paket robot, anak-anak dapat merakitnya menjadi tiga model berbeda: line follower (robot yang mengikuti garis), transporter (robot pemindah barang), dan avoid obstacle (robot penghindar rintangan).
“Satu robot bisa punya tiga mode. Anak-anak jadi tidak cepat bosan dan bisa belajar berbagai fungsi sekaligus. Setahu saya, kebanyakan robot sejenis hanya punya satu model,” terang Reza.
Dengan konsep ini, CubeBot tidak hanya melatih kemampuan berpikir logis anak saat menyusun program, tetapi juga membentuk keterampilan kerja sama tim saat mereka berkolaborasi dalam merakit. Selain itu, kegiatan merakit dan menguji coba robot membantu mengembangkan keterampilan motorik halus.
Reza dan tim berharap CubeBot dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Malang dan Jawa Timur. Harapannya, inovasi ini dapat membentuk generasi yang tidak sekadar melek teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta mampu berkolaborasi.
“Kami ingin membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat edukasi yang menyenangkan dan bermanfaat. Anak-anak tetap bisa berinteraksi dengan teknologi, tapi dengan cara yang positif,” tutupnya. (dan/but)






