Surabaya (beritajatim.com) – Pasar keuangan domestik menunjukkan kinerja positif, didorong oleh meredanya tensi perang dagang global dan membaiknya indikator ekonomi dunia. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyatakan bahwa kesepakatan tarif antara Amerika Serikat dengan beberapa negara mitra, termasuk Indonesia, telah menciptakan sentimen risk on yang diikuti oleh masuknya aliran modal ke emerging market seperti Indonesia.
Menurut Mahendra, indikator ekonomi global menunjukkan tren membaik, ditunjukkan oleh kinerja manufaktur dan perdagangan yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua 2025 di Amerika Serikat dan Tiongkok juga tercatat lebih baik dari ekspektasi.
Di dalam negeri, permintaan masih stabil, tercermin dari laju inflasi yang rendah dan pertumbuhan uang beredar yang meningkat. Meskipun PMI manufaktur masih di zona kontraksi, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan yang persisten dan cadangan devisa yang tinggi.
Kinerja pasar saham domestik menunjukkan pemulihan yang signifikan. Setelah melemah 2,15 persen secara year-to-date (ytd) pada 30 Juni 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak ke level 7.484,34 pada 31 Juli 2025, atau menguat 5,71 persen ytd. Kinerja indeks sektoral secara month-to-date (mtd) pada Juli 2025 menunjukkan peningkatan di seluruh sektor, dengan penguatan terbesar terjadi pada sektor Teknologi, Infrastruktur, dan Industrial.
Nilai kapitalisasi pasar saham Indonesia juga mencetak rekor baru, mencapai all time high selama tiga hari berturut-turut dan puncaknya tercatat pada 29 Juli 2025 di angka Rp13.701 triliun.
Meskipun investor non-residen membukukan net sell sebesar Rp8,34 triliun mtd, likuiditas transaksi harian menunjukkan peningkatan. Rerata nilai transaksi harian per Juli 2025 tercatat Rp13,42 triliun, meningkat dari rerata bulan Juni sebesar Rp13,29 triliun, dan lebih baik dari rerata tahun 2024 yang sebesar Rp12,85 triliun.
Di pasar obligasi, Indeks ICBI menguat 1,17 persen mtd ke level 418,84. Investor non-residen mencatatkan net buy sebesar Rp13,28 triliun mtd di pasar obligasi pemerintah dan Rp0,32 triliun mtd di pasar obligasi korporasi.
Sementara itu, nilai Asset Under Management (AUM) industri pengelolaan investasi per 31 Juli 2025 tercatat sebesar Rp856,62 triliun. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana juga tercatat sebesar Rp526,53 triliun, dengan net subscription sebesar Rp14,43 triliun mtd.
Mahendra Siregar juga menyoroti kesepakatan tarif Indonesia dengan Amerika Serikat yang kini menjadi 19 persen. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional.
OJK menyambut baik afirmasi peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global Rating pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil.
Menurut Mahendra, penilaian ini mencerminkan kepercayaan terhadap kekuatan fiskal, pertahanan ekonomi, dan sektor keuangan Indonesia yang solid.
OJK berkomitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri dan merealisasikan berbagai peluang, dengan tetap menerapkan manajemen risiko dan tata kelola yang baik.[rea]






