Jember (beritajatim.com) – Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berdampak terhadap pelajar sekolah, Senin (28/7/2025).
Sebagian siswa terlambat masuk sekolah. Hermin Herawati, salah satu orang tua siswa, mengatakan, anaknya yang bersekolah di SMP Negeri 1 Jember terlambat datang, gara-gara kemacetan yang disebabkan antrean pengemudi kendaraan bermotor di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Jalan Ahmad Yani.
“Antreannya meluber sampai Jalan Kartini. Anak saya diantarkan pamannya. Berangkat pukul 06.00 WIB. Untung terlambat sedikit,” katanya. Dia akan mengantarkan anak sekolah lebih pagi biar tak telat.
Demikian juga pengakua Lilik Niamah, warga Kecamatan Sumbersari. Anak perempuannya, Sabita Rufaidah, belum bisa berangkat ke sekolah tepat waktu karena menunggu sang kakak antre di SPBU.
Sabita tak sendirian. “Ada yang memutuskan tidak sekolah, karena ojek tidak mau mengantarkan gara-gara BBM menipis,” kata Lilik.
Kepala SMA Negeri 2 Jember Dora Indriana mengatakan, ada tiga orang siswa yang terlambat. “Kami sudah mendisiplinkan anak anak untuk belajar antisipasi tepat waktu,” katanya.
“Kami sudah menyiapkan anak-anak dan memberi motivasi kepada mereka agar tetap berusaha datang tepat waktu. Diharapkan mwereka bangun pagi lebih awal dan menyiapkan diri untuk ke sekolah lebih awal, karena itu juga merupakan Tujuh Karakter Anak Indonesia yang dicanangkan Pak Menteri dan kita implementasikan,” kata Dora.
Dora berharap siswa dan orang tua bisa menyikapi kelangkaan BBM dengan bijak dan menghindari area kemacetan saat berangkat ke sekolah.”Saya tadi dari (perumahan) Graha ke SMA Negeri 2 saja butuh waktu 45 menit,” katanya.
Kepala SMA Muhammadiyah 3 Jember Sony Bachtiar membenarkan, bahwa sebagian siswa kesulitan datang ke sekolah karena krisis BBM. “Karena semua serba mendadak, kami memberikan kelonggaran apabila ada siswa terlambat ke sekolah,” katanya.
“Kalau tidak bisa diatasi lagi, karena ini terkait semua alat transportasi, baik mobil maupun sepeda motor, orang tua atau operator transportasi, tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali memberikan kelonggaran kepada anak-anak untuk hadir ke sekolah kala bisa datang. Yang penting ada keterangan dari orang tua,” kata Sony.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Jember Tulus Wijayanto mengatakan, pihaknya masih akan memantau dampak krisis BBM terhadap kehadiran siswa di sekolah. “Belum ada informasi masuk. Nanti saya kabari secepatnya kalau ada informasi, dan langkah apa yang kami harus ambil,” katanya. [wir]






