Bojonegoro (beritajatim.com) – Musim kemarau basah yang melanda Kabupaten Bojonegoro sepanjang tahun 2025 membawa dampak buruk bagi para petani tembakau. Akibat curah hujan yang tidak menentu, seluas 500 hektar tanaman tembakau dilaporkan gagal panen, menyebabkan potensi kerugian miliaran rupiah.
Kondisi cuaca anomali ini menjadi tantangan serius bagi petani tembakau Bojonegoro yang sangat bergantung pada cuaca panas dan kering untuk menghasilkan daun berkualitas.
Menurut data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, hujan yang masih sering turun di tengah musim kemarau menjadi penyebab utama kegagalan panen. Tanaman tembakau yang seharusnya membutuhkan sinar matahari penuh justru terendam air, sehingga akar membusuk dan pertumbuhan daun tidak maksimal.
“Kami sudah mensosialisasikan potensi kemarau basah di tahun 2025 ini. Musim kemarau saat ini menjadi tantangan bagi petani tembakau yang tanamannya sangat sensitif terhadap air hujan,” ungkap Kepala Bidang Sumber Daya Manusia dan Pembiayaan DKPP Bojonegoro, Zainul Ma’arif, Senin (14/7/2025).
Dari total 16.000 hektar lahan tembakau yang tersebar di Bojonegoro, wilayah yang paling terdampak adalah kecamatan-kecamatan yang menjadi lumbung tembakau, diantaranya di Kecamatan Temayang, Kecamatan Kedungadem, Kecamatan Kepohbaru, Kecamatan Sugihwaras, dan Kecamatan Baureno.
DKPP Bojonegoro merinci potensi kerugian yang harus ditanggung petani akibat gagal panen ini dengan luas 500 hektar, dengan potensi hasil per hektar 12 ton daun tembakau, dengan total tembakau yang gagal dipanen sekitar 6.000 ton. Sementara, harga jual daun tembakau saat ini berkisar Rp4 ribu hingga Rp4,5 ribu.
Dengan perhitungan tersebut, total potensi kerugian petani tembakau di Bojonegoro akibat gagal panen ini bisa mencapai Rp24 miliar hingga Rp27 miliar. “Kerugian ini tentu sangat signifikan, mengingat tembakau adalah tanaman musiman yang menjadi andalan pendapatan bagi banyak petani di wilayah selatan dan timur Bojonegoro,” jelas Zainul.
Pemerintah daerah terus mengimbau petani untuk lebih waspada terhadap perubahan iklim dan mempertimbangkan pola tanam yang lebih adaptif di masa mendatang untuk meminimalkan risiko kerugian serupa. [lus/but]






