Malang (beritajatim.com) – Tak ada rencana, tak ada target, bahkan tak tahu jalur seleksinya. Namun Fina Kharisma, mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), justru menembus panggung Clash of Champions (CoC) Season 2 Ruangguru dan berdiri sejajar dengan mahasiswa dari Oxford, Stanford, hingga universitas-universitas elite di Jepang.
CoC bukan ajang biasa. Ini kompetisi berbasis game-based learning yang menyaring mahasiswa terbaik Indonesia dan dunia dalam tantangan logika, numerik, dan memori. Formatnya intens, penuh tekanan, seperti reality show, dan menuntut ketahanan fisik juga mental. Fina menjadi satu-satunya wakil dari kampusnya.
“Saya tidak pernah menyangka bisa sampai sini. Bahkan awalnya saya tidak tahu ada jalur seleksi ini,” ungkap Fina saat diwawancarai beritajatim.com, Rabu (9/7/2025).
Ia tidak mendaftar lewat kanal terbuka. Justru, jalannya ke CoC terbuka lewat sebuah pesan di LinkedIn dari tim Community Talent Ruangguru. “Awalnya saya mimpi saja bisa ikut CoC. Tapi saat dihubungi dan diminta isi formulir, saya coba. Ternyata berlanjut ke skill test dan wawancara. Alhamdulillah lolos,” kata Fina.
Hadapi Lawan dari Kampus-Kampus Gacor
Ketika tiba di arena, Fina terkejut. Sebagian peserta datang dari kampus-kampus yang disebutnya gacor: Oxford, Stanford, universitas-universitas top Jepang, bahkan kampus-kampus elite nasional. Ia merasa kecil. Tapi tidak mundur.
“Pas tahu mereka dari kampus-kampus besar, aku sempat merasa terintimidasi. Tapi aku bilang ke diri sendiri: aku juga punya value. Aku layak di sini,” ujarnya.
Di tengah tekanan dan performa lawan yang cepat dan unggul, Fina menerapkan strategi sederhana: sehat fisik, kuat mental, dan niat tulus. “Aku enggak pasang target juara. Tapi sudah sampai arena ini saja, aku sudah bangga. Aku hanya ingin tampil maksimal mewakili UM,” katanya.
Membawa Misi Mengenalkan UM
Partisipasi Fina dalam CoC sejalan dengan visi besar Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan tujuan ke-17 tentang kemitraan. Keikutsertaannya menunjukkan bahwa mahasiswa UM mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional, dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Bagi Fina, membawa nama UM di ajang nasional yang disaksikan jutaan orang adalah tanggung jawab besar. Ia menyadari, kampusnya masih kerap disalahartikan. “Banyak yang kira UM itu singkatan dari undang-undang. Aku ingin semua orang tahu, UM itu Universitas Negeri Malang, kampus pendidikan terbaik,” tegasnya.
Namun tanggung jawab itu juga sempat menjadi beban. “Ketika game dimulai, aku takut mengecewakan. Apalagi kalau sampai eliminasi awal, aku merasa membawa beban ribuan mahasiswa UM,” ucapnya.
Meski begitu, ia terus mendorong dirinya untuk berani, kuat, dan bersyukur. “Aku ubah rasa takut jadi rasa syukur. Aku percaya bisa belajar dan memberi yang terbaik,” katanya.
Fina menyebut nilai-nilai dari pesantren dan organisasi kampus sebagai fondasi kuatnya. “Yang paling berpengaruh adalah nilai resiliensi. Di CoC, fisik, mental, pikiran benar-benar diuji. Harus seimbang dan tahan banting,” jelasnya.
Setelah mengikuti CoC, pandangannya tentang prestasi pun berubah. “Prestasi bukan sekadar banyak medali. Tapi seberapa besar pencapaian kita bisa berdampak bagi orang lain,” ujarnya. Kini, Fina memilih fokus pada pengabdian dan kegiatan sosial berbasis edukasi.
Dari pesantren ke CoC, dari LinkedIn ke arena nasional, perjalanan Fina Kharisma adalah kisah transformasi yang langka. Dari seorang mahasiswa di kampus negeri di Malang, ia menjadi wakil yang berdiri di antara nama-nama besar.
Ditanya tentang motivasi terbesarnya, Fina menjawab singkat tapi dalam: “Bermanfaat. “Hidup cuma sekali. Maka hiduplah yang berarti,” tutupnya. (dan/ted)






