Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) terus mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) Dewan Mahasiswa Fakultas (DMF) Sastra, mereka menggelar pelatihan perancangan motif batik dengan mengangkat relief Candi Kidal sebagai identitas budaya desa setempat.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang ini diikuti lebih dari 20 warga. Agenda yang berlangsung pada akhir Juni lalu diproyeksikan sebagai langkah awal membangun desa wirausaha berbasis ekonomi kreatif di wilayah tersebut.
Kepala Desa Kidal, Ahmad Taufik, menyambut baik dan mengapresiasi kolaborasi yang dibangun mahasiswa UM dengan warganya. Ia menilai potensi sejarah yang dimiliki Desa Kidal sudah saatnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Potensi sejarah di Desa Kidal ini perlu diolah menjadi produk bernilai ekonomi agar mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi warga,” ujar Ahmad Taufik saat membuka acara.
Pelatihan ini menghadirkan dosen Departemen Seni dan Desain UM, Andreas Syah Pahlevi, S.Sn., M.Sn., sebagai pemateri utama. Andreas membimbing langsung para peserta untuk mengenali karakter visual relief Garuda di Candi Kidal, lalu menerjemahkannya menjadi rancangan motif batik yang filosofis.
Selama agenda berlangsung, warga mendapatkan materi sejarah batik, potensi industri kreatif, hingga teknik pengembangan motif berbasis aset budaya. Setelah teori, peserta langsung melakukan praktik menggambar motif dengan pendampingan intensif.
Andreas menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi tahapan awal dari proses pendampingan yang akan terus dikembangkan secara berkelanjutan oleh akademisi UM.
“Kami berharap program ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut hingga motif-motif yang lahir benar-benar menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kidal,” tegas Andreas.
Antusiasme warga terlihat tinggi sepanjang pelatihan. Salah satu peserta, Laily, bahkan sukses mengombinasikan unsur sayap Garudeya, relief Tirta Amerta, dan kesenian Kuda Lumping menjadi satu rancangan motif batik yang sangat unik.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kami dalam membuat motif batik. Ke depan saya berharap ada pelatihan lanjutan yang memanfaatkan teknologi agar proses produksi batik menjadi lebih cepat dan efisien,” ungkap Laily.
Sementara itu, Ketua Tim PPKO DMF Sastra UM menjelaskan bahwa hasil pelatihan tidak akan berhenti pada tahap perancangan di atas kertas. Pihak mahasiswa berkomitmen mengawal seluruh desain yang dihasilkan warga hingga proses legalisasi.
“Seluruh desain akan didampingi hingga masuk proses legalisasi sebagai motif batik khas Desa Kidal agar memiliki perlindungan hukum sekaligus nilai komersial yang lebih tinggi,” terangnya kepada beritajatim.com, Selasa (14/7/2026).
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat identitas desa, meningkatkan daya saing produk ekonomi kreatif (creative economy), serta memperluas jaringan pemasaran batik lokal.
“Program pengabdian ini juga dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 8 terkait Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui pelestarian budaya, serta SDG 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan,” kata ketua tim menutup acara. (dan/kun)






