Selama ini sejarah lingkungan kurang mendapat tempat dalam arus utama kajian sejarah di Indonesia. Perjalanan kajian sejarah lingkungan tidak secepat sejarah nasional. Saatnya kajian sejarah lingkungan mendapat tempat terhormat sebagai ikhtiar untuk menghadapi masalah perubahan iklim dan mencari solusi krisis ekologi.
Diana Suhardiman, peneliti dari Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda, melihat kemungkinan persoalan lingkungan saat ini pernah terjadi atau diperbincangkan pada masa lampau.
“Saya meyakini banyak sekali pengetahuan lokal pada masa lampau yang saat ini tercecer di mana-mana dan tidak dianggap sebagai pengetahuan yang saintifik atau pengetahuan teknis, tapi sebenarnya sangat berguna untuk menentukan langkah ke depan,” kata Diana, usai kuliah umum di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (8/7/2025).
Sejarah lingkungan memposisikan lingkungan sebagai aktor bukan hanya sebagai objek. “Kalau sejarah lingkungan berbicara tentang gunung, sungai, pohon, flora fauna, semua diposisikan sebagai aktor, sehingga posisi manusia dan alam menjadi lebih terintegrasi,” kata Diana.
Sejarah lisan atau oral history sangat penting dalam penggalian sejarah lingkungan sebagai sebuah metode, yang menurut Diana, membantu proses dekolonialisasi untuk menghindari perspektif dominan. Sejarah lisan selama ini dipinggirkan oleh dominasi arsip-arsip tertulis tentang lingkungan. Ia tidak bisa disatukan dalam satu unit pengetahuan, sehingga seringkali dianggap tidak penting.
Pengetahuan-pengetahuan lokal selama bertahun-tahun disingkirkan oleh standardisasi saintifik Eropa maupun nasionalisme Indonesia. “Distandardisasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu seperti misalnya Revolusi Hijau. Tidak hanya kalendernya, tapi semua harus distandardisasi seperti pupuk bibit, obat hama., untuk memproduksi pangan sebanyak-banyaknya,” kata Diana.
Narasi dominan yang dibentuk oleh arsip-arsip masa lalu memang penting untuk diketahui. “Tapi di luar narasi dominan itu, ada apa saja, sama pentingnya. Kumpulan narasi yang plural itu akan memberikan kekayaan pengetahuan sejarah lingkungan, yang berpotensi menolong kita menghadapi masalah-masalah perubahan iklim ke depan,” kata Diana.
Political Self Determination
Diana melihat sejarah lingkungan tidak dalam persepsi Barat yang mengedepankan konservasi alam dengan melupakan variabel manusia. “Tidak bisa kita ngomong begitu, di dalam konteks kita tahu masyarakat masih hidup di hutan. Kalau kita ngomong dengan persepsi lingkungan seperti itu, kita akan membuat lingkungan menjadi sesuatu yang lebih penting daripada masyarakat,” katanya.
Diana menegaskan, bahwa lingkungan ada karena eksistensi manusia. “Isu lingkungan bukan hanya sebatas lingkungan, tapi juga mencakup kebebasan beraspirasi, masalah political self determination juga,” katanya.
“Untuk indigenous people, hutan bukan hanya sebongkah tanah atau berapa pohon. Itu masalah territory of life. Jadi yang dipakai adalah konsep kehidupan. Bukan masalah saya boleh tidak mengambil pohon ini atau saya mengambil berapa hektare tanah? Masalahnya bukan itu. Masalahnya lebih ke filosofinya: untuk apa itu diambil,” kata Diana.
Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unej Akhmad Ryan Pratama berpendapat, sejarah lingkungan menjadi suplemen untuk melengkapi sejarah nasional Indonesia. “Tidak mungkin kita belajar sesuatu hal yang jauh dari realitas sosial kita sehari-hari,” katanya.
Lagi pula, Ryan tak terlalu yakin sejarah lingkungan akan menjadi bagian dari penulisan sejarah nasional Indonesia yang digagas Kementeruian Kebudayaan. “Kita tidak mungkin membahas Sabang sampai Merauke secara detail. Apalagi hanya seratus orang yang mengerjakan dengan waktu yang cukup singkat,” katanya.
Padahal, Ryan memandnag penting bagi bangsa Indonesia untuk mulai mempelajari sejarah lingkungan, menyusul kerusakan ekosistem di banyak tempat. “Kita mengalami berbagai macam fenomena alam yang sangat aneh. Kita mengalami kenaikan suhu, climate change dan sejenisnya. Penarikan muka air laut yang semakin parah,” katanya.
Semua fenomena itu seharusnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia, karena tak lepas dari berlebihnya eksploitasi dibandingkan kemampuian lingkungan untuk memulihkan diri. “Penting untuk kemudian merefleksikan kembali bahwa, punahnya suatu spesies atau kerusakan suatu ekosistem, itu juga berdampak kepada kita sebagai bagian dari kesatuan semesta,” kata Ryan.
“Tidak bisa gaya Jakarta yang tidak memiliki keterkaitan dengan hutan dan sungai, kemudian dipaksakan ke teman-teman di Kalimantan atau Sulawesi, atau teman-teman di pesisir yang secara sosial, kultural dan ekologis sudah dekat dengan kultur bentangan geografi seperti itu,” kata Ryan.
Ikhtiar dari Sudut Kalisat
Ikhtiar untuk membuka ruang sejarah lingkungan sudah dimulai di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, oleh komunitas Sudut Kalisat. Selama ini RZ Hakim dan istrinya Zuhana Anibuddin Zuhro bekerja dalam senyap untuk mendokumentasikan memori kolektif masyarakat terhadap perubahan ekosistem.
Hakim dan Zuhana mendokumentasikan cerita lisan, lagu-lagu rakyat, peta ingatan, tradisi lokal, dan foto maupun video dokumentasi komunitas.”Peta ingatan juga termasuk ingatan kolektif. Ia berbeda
dengan kartografi pada umumnya, melankan peta sederhana yang dibikin secara bersama-sama,” kata Hakim.
Pendokumentasian ingatan kolektif, menurut Hakim, bukan melulu menjebakkan diri pada nostalgia. “Ingatan kolektif penting dipelajari untuk menyadari adanya perubahan ekosistem yang terjadi di sekitar kita. Dari mana kita tahu, di antaranya dari penutur-penutur itu sendiri,” katanya.
Hakim meyakini kesadaran itu nanti akan membangun kesadaran kritis yang mungkin bisa menjadi solusi lokal atas permasalahan yang mungkin terjadi pada masa depan. Problem yang dihadapi Hakim adalah ketergantungan memori kolektif pada wawasan penutur.
Lokasi penutur juga menentukan informasi yang diperoleh. “Beda desa beda pula aturannya. Misal, di Desa Ajung, Kecamatan Kalisat, tidak boleh menebang pohon di semua hari Rabu. Kalau di desa Kalisat, Kecamatan Kalisat, tidak boleh menebang pohon di hari Rabu legi. Sejalan dengan pemikiran ulama pesantren setempat, Rabu adalah hari untuk menanam, bukan hari yang tepat untuk menebang pohon, kecuali Rabu sore ba’da Ashar,” kata Hakim.
Ini yang kemudian membuat narasi sejarah lokal di Jember tersebar dalam banyak serpihan. “Dari satu unit menjadi banyak sub unit. Tapi itu bisa pakai metode pohon faktor, dan tidak menjadikan masalah,” kata Hakim.
Apalagi Hakim menemukan banyak hal menarik dari perjalanannya mendokumentasikan sejarah lingkungan di Jember. “Ruang geografis Jember bila dilihat dari perkakas antropologi. Ia lengkap karena memiliki peradaban gunung, sungai, dan laut,” katanya.
“Posisi kartografi Jember yang tepat di antara Pegunungan Hyang dan Gunung Raung membuatnya terlihat enclave. Tapi ternyata ada jalan-jalan purba di sana,” kata Hakim.
Di sinilah Hakim melihat, kekosongan narasi Jember pada masa manusia purba Watangan yang mirip dengan manusia purba Tulungagung hingga abad pertama Masehi, bisa diisi dengan telusur flora fauna, khususnya flora.
“Kenapa di Jember ada Dehaasia pugerensis dan hanya di Jember satu-satunya? Itu contoh. Contoh lain, apa saja tanaman-tanaman hasil introduksi manusia yang kemudian tiba di Jember? Tanaman-tanaman yg dimunculkan oleh arsitek, apa saja?” kata Hakim. Sederet pertanyaan tersebut, menurut Hakim, dapat mengisi narasi-narasi kosong tentang Jember.
“Narasi lain tentu bisa diisi perkakas geologi. Jadinya lengkap, berurutan. Punya semacam kronik. Tidak tiba-tiba ada, tiba-tiba Sadeng, tiba-tiba perkebunan modern dan Pendalungan. Sementara kapan masyarakat Jember mengenal ilmu tentang logam belum terjelaskan,” kata Hakim.
Temuan menarik lainnya adalah soal arsitektur vernakular dengan bahan yang disesuaikan dengan kekayaan alam lingkungan sekitar. “Bermotif anyaman yang sangat khas Jembernya, yaitu motif mata kitiran. Itu satu contoh. Dari sana memunculkan contoh-contoh lain,” kata Hakim.
Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember ini yakin, tumbuhnya kesadaran kolektif akan mempermudah penyesuaian dengan ilmu akademik.
“Mau bicara Wedung Pace misalnya. Selain dengan sejarah lisan, contoh produk, ya juga harus dikaji oleh teman-teman yang berkompeten di bidang metalurgi. Jadi selesai, narasi tidak berputar-putar terus, dan bisa pula diperbantahkan di ruang akademis,” katanya. [wir]






