Bondowoso, (beritajatim.com) – Wilayah Kecamatan Binakal, Kabupaten Bondowoso, perlahan bertransformasi menjadi sentra protein hewani baru di tapal kuda.
Berawal dari inisiatif para kepala desa, budidaya bebek petelur kini tumbuh menjadi industri berbasis kemitraan yang melibatkan sedikitnya empat desa.
Camat Binakal, Ifan Arrifandi, menuturkan bahwa langkah ini bermula dari tekad Kepala Desa Baratan yang menginisiasi kelompok industri bebek petelur di delapan desa.
“Khususnya empat desa sudah resmi bermitra, yaitu Desa Baratan, Sumber Tengah, Binakal, dan Bendelan,” ujarnya pada BeritaJatim.com
Binakal memang sejak lama dikenal dengan ternak bebek tradisional. Namun, berkat sentuhan manajemen baru dari para kepala desa, budidaya ini kini dijalankan lebih terorganisir, melibatkan kelompok masyarakat, dan diarahkan untuk mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PAD).
“Saya berharap ini bukan hanya membuka lapangan kerja bagi warga, tapi juga mengurangi angka pengangguran. Kalau dikelola Bumdes, bisa menambah PAD dan memberi anak-anak muda wawasan baru bahwa di desa juga ada peluang usaha yang menjanjikan,” lanjut Ifan.
Kepala Desa Baratan, Hasan, yang menjadi motor penggerak, menerangkan bahwa rantai pasok pakan dan pengambilan telur pun sudah dikelola satu pintu.
“Pakan untuk tiga desa mitra semua ambil dari Baratan, pengantaran juga kami yang handle, supaya alur distribusi rapi,” jelasnya.
Saat ini, total populasi bebek di tiga desa mitra mencapai sekitar 1.200 ekor. Dalam kondisi cuaca bagus, produksi telur bisa menembus 90 persen dari populasi, dengan rata-rata harga jual Rp1.800 hingga Rp2.400 per butir.
“Perputaran uangnya bisa di atas Rp50 juta per bulan, meski tetap harus menghadapi kendala cuaca, stres bebek, penyakit mata biru, sampai flu burung,” tambah Hasan.
Ia menekankan bahwa kebersihan kandang menjadi kunci utama menjaga produktivitas. “Kalau kandang kotor dan bau, bebek jarang bertelur. Makanya, setiap kandang minimal dijaga dua orang untuk bersih-bersih dan panen,” katanya.
Sentra bebek petelur ini diharapkan mampu menjawab tingginya permintaan telur bebek di Bondowoso. Ifan menyebut, kebutuhan telur bebek di daerah ini baru terpenuhi 30 persen dari produksi lokal.
“Artinya, masih ada 70 persen celah pasar yang bisa digarap bersama. Sayang sekali kalau peluang ini tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Selain potensi ekonomi, budidaya bebek juga memberikan pengetahuan siklus ternak yang lebih modern bagi peternak lokal. Masa produktif bebek petelur, kata Hasan, terbagi dua tahap: pertama selama 8–9 bulan, lalu beristirahat sekitar 50 hari sebelum kembali produktif hingga usia 15 bulan. Setelah itu, bebek harus diafkir karena produktivitasnya menurun.
Melalui konsep kemitraan lintas desa ini, Binakal perlahan menata diri sebagai sentra protein hewani baru. Ifan berharap Pemerintah Kabupaten Bondowoso, termasuk Bupati, bisa memberikan dukungan lebih besar agar sentra ini berkembang dan menjadi solusi konkret pengentasan kemiskinan di wilayahnya.
“Peluang masih sangat besar. Kalau ditangani serius, ini bisa jadi model pemberdayaan desa yang mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya. [awi/aje]






