Surabaya (beritajatim.com) – Seorang pria di Surabaya tewas usai dikeroyok saat Anniversary Persebaya ke 98 pada Rabu (18/06/2025) dini hari.
Ia meninggal dunia usai dirawat 10 hari di RS Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya, Minggu (29/06/2025) pagi.
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi di kawasan Jalan Tunjungan, Surabaya. Dalam peristiwa itu, Antok Anggara (33) menjadi korban setelah dipukuli tanpa alasan yang jelas.
Istri korban Penti Atikasari mengatakan, suaminya pamit pergi ngopi bersama temannya pada Selasa (17/6/2025) malam. Ia sempat korban melihat joget-joget di jalan dari story teman suaminya sekitar pukul 20.00 WIB.
“Setelah itu tidak bisa dihubungi sampai jam satu pagi,” kata Penti, Kamis (03/06/2025).
Antok lantas kembali ke rumah sekitar pukul 02.30 WIB. Ia diantar oleh teman kerjanya dalam kondisi babak belur. Wajahnya lebam, mata diperban dan tubuhnya luka. Ia tidak sadarkan diri sampai Rabu (18/06/2025) pagi.
“Suami saya baru sadar Rabu pagi dan mengeluh seluruh badannya sakit,” jelasnya.
Ketika Penti bertanya kepada korban, Antok tidak mengaku jika ia baru dikeroyok. Antok mengatakan bahwa dia baru jatuh. Setelah selang beberapa hari, korban baru mengungkapkan jika dia baru saja menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang di Tunjungan. Bahkan, korban mengaku jika sempat dikepruk pot di bagian belakang kepala.
“Katanya saat itu dia lagi cari temannya, malah dikeroyok banyak orang. Ditemukan temannya dalam kondisi tengkurap, mandi darah, baju lepas satu sisi, dan ada pot pecah di dekatnya,” imbuhnya.
Kondisi Antok lantas tidak kunjung membaik. Ia sempat menjalani pemeriksaan di klinik dan puskesmas. Namun, kondisinya terus menurun hingga akhirnya pada Selasa (24/06/2025) Antok dibawa ke RS BDH untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Hasil pemeriksaan dari RS BDH itu ada gumpalan darah di perut yang membutuhkan tindakan operasi. Namun karena kendala biaya, kita bawa pulang,” kata Penti.
Antok kembali drop pada Jumat (27/06/2025) di rumah. Ia lantas dibawa ke RS BDH kembali dalam kondisi perut membesar dan tidak bisa makan atau minum. Korban terus muntah-muntah dan tubuhnya lemas.
“Sabtu itu sempat ngobrol sama saya. Lalu besok pagi meninggal dunia,” jelasnya.
Penti menjelaskan jika suaminya lantas dimakamkan di pemakaman umum kawasan Made. Atas peristiwa ini, Penti lebih memilih untuk ikhlas.
“Kalau ada bantuan, kami bersyukur. Kalau tidak, juga nggak papa. Suami saya sudah nggak ada. Soal kasus, kalau memang bisa diproses ya silahkan. Kalau pelakunya tertangkap, Alhamdulillah,” ujar Penti lirih, memohon doa terbaik bagi mendiang suaminya. (ang/ted)






