Malang (beritajatim.com) – Fenomena brain rot kini menjadi perhatian serius kalangan pendidik, seiring maraknya konsumsi konten video pendek yang berulang di media sosial oleh anak-anak dan remaja. Istilah brain rot merujuk pada penurunan kemampuan berpikir, fokus, dan motivasi belajar akibat paparan konten digital yang instan dan dangkal.
Pakar Linguistik dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Devinta Puspita Ratri, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa brain rot bukanlah kerusakan otak secara fisik, tetapi kondisi mental yang dipengaruhi pola konsumsi digital yang tidak sehat.
“Konten-konten pendek membuat otak terbiasa bekerja secara cepat dan dangkal. Anak-anak jadi tidak sabaran, susah fokus, dan kehilangan minat membaca,” ungkap Devinta.
Ia juga menyoroti tren anak-anak yang mulai mengidolakan konten viral tanpa mempertimbangkan nilai edukatifnya. “Banyak yang hanya mengejar popularitas di media sosial, padahal isi kontennya tidak berbobot. Ini membentuk budaya instan yang tidak mendidik,” jelasnya.
Lebih lanjut, Devinta mengkritisi ketergantungan generasi muda pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). “Mereka cenderung bergantung pada AI tanpa berpikir mandiri. Padahal kemampuan berpikir kritis itu harus terus dilatih, bukan diabaikan,” tambahnya.
Menurutnya, brain rot bisa menimbulkan dampak jangka panjang pada aspek kognitif, sosial, dan emosional anak. Gejalanya antara lain kesulitan berpikir logis, mudah terdistraksi, rendahnya daya konsentrasi, hingga kehilangan semangat untuk berproses.
“Beberapa komentar anak-anak di media sosial menunjukkan betapa rendahnya pemahaman dasar mereka. Ada yang sampai menyebut Garut sebagai negara di Eropa. Ini bukan lagi lucu, tapi mengkhawatirkan,” tegasnya.
Untuk mencegah memburuknya fenomena ini, Devinta menekankan pentingnya keterlibatan semua pihak, terutama orang tua dan sekolah. Orang tua diminta aktif mendampingi anak saat menggunakan gawai, membatasi waktu layar, dan menyediakan alternatif aktivitas non-digital seperti membaca buku dan bermain fisik.
“Anak-anak harus dikenalkan pada digital hygiene, yaitu kemampuan memilah dan mengonsumsi konten digital secara sehat dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Sekolah, lanjutnya, juga perlu berperan lebih dari sekadar menyampaikan materi pelajaran. “Pendidikan seharusnya menanamkan cara berpikir logis dan kritis, agar anak-anak tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga cerdas dalam bermedia,” terang Devinta.
Ia juga mendorong peran aktif pemerintah, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), untuk menyaring dan membatasi konten digital yang tidak mendidik. “Konten receh dan sensasional masih terlalu bebas berseliweran. Perlu ada kebijakan yang lebih tegas,” ujarnya.
Devinta menegaskan bahwa fenomena brain rot tidak bisa diatasi secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat digital untuk membentuk ekosistem yang mendukung tumbuh kembang mental anak secara sehat.
“Ini masalah bersama. Kita semua harus ambil peran agar generasi muda tidak tenggelam dalam budaya instan yang merusak potensi berpikir mereka,” pungkasnya. (dan/kun)






