Surabaya – Lukas Dominggus, seorang penyintas dunia yang kini telah menginjak usia yang sudah lagi tidak muda.
Beliau telah melewati beberapa cerita dan lapisan-lapisan kehidupan, salahsatunya cerita tentang masa-masa yang dimana menurut masyarakat, itu merupakan penyimpangan sosial.
Waria, sebuah “identitas” gender yang masih asing dan hambar rasanya diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Seperti yang dikatakan dosen komunikasi multikultural dan kajian gender (Sonya), yang mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia hanya melihat dan memandang bahwa hanya ada laki-laki dan perempuan.
“Mereka tidak pernah melihat selain laki-laki dan perempuan (ditengah-tengahnya). Kalau ngomong laki-laki, pasti dibenak mereka itu maskulin. Begitu juga perempuan, harus feminim”, jelas Sonya terkait isu gender yang masih belum bisa diterima masyarakat Indonesia, terkhusus di Surabaya.
Dosen komunikasi multikulltural dan kajian gender tersebut juga menuturkan bahwa budaya di Indonesia masih menetapkan konsep patriarki.
Patriarki membuat sistem sosial bahwa laki-laki (maskulin) berkuasa atas perempuan (feminim). Hal tersebut yang kemudian membuat masyarakat berpikir bahwa jika ada individu laki-laki yang bersifat layaknya perempuan, maka konsekuensinya akan dianggap aneh, bahkan dikucilkan.
Lukas, yang dahulunya berkecimpung di dunia Waria, kini kehidupannya sudah berbeda setelah menjadi laki-laki seutuhnya, walaupun bekas-bekasnya masih ada, seperti kedua alisnya yang “menonjol”.
Namun, hal tersebut sama sekali tidak membuatnya menyesal memilih jalan itu. Justru ia beranggapan, bahwa Tuhan merencanakan ini semua, demi alur cerita yang berkesan dan membekas bagi Lukas.
“Beranjak dari waria kala itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada gejolak didalamnya, namun saya tetap berdoa kepada Tuhan, memohon bimbingan agar diberi jalan dan pertanda”, tuturnya menjelaskan sedikit kilas balik masa-masa itu.
Saat ini, mantan waria tersebut mengabdikan seumur hidupnya kepada Tuhan dan gereja. Ia beranggapan bahwa ini merupakan cara Tuhan untuk memberikan makna hidup baginya.
Dengan mata yang berbinar, Lukas menyebutkan dan memberitahukan bahwa waria harus dirangkul dan diberi kasih sayang, karena mereka juga manusia yang hidup dibawah naungan-Nya.
Kepada Lukas, Pendeta Retno dan Kerabat dekatnya (Revina dan Jhoufan) mengungkapkan tanggapan dan pandangannya terhadap Waria.
Mereka berbagi mata dan asa yang sama, yakni menganggap waria haruslah dirangkul dan diperlakukan layaknya manusia, tidak dihina dan dikucilkan.
“Saya kagum dan mengapresiasi perjuangan Pak Lukas. Itu tidak mudah, ada banyak kesedihan kekecewaan, bahkan merasa sendirian ditengah banyak orang di masa-masa transisi itu”, ujar Pendeta Retno menanggapi kisah hidup Lukas.
Revina dan Jhoufan sebagai kerabat dan jemaat di gereja yang sama dengan Lukas, juga turut menuturkan pandangannya terhadap kisah mantan waria itu.
Mereka berdua telah mengenal dekat dengan sosok Lukas dari 13 tahun yang lalu. Menurut mereka, Tuhan mempunyai rencaha tersendiri untuk Lukas, perihal mengapa ia tumbuh menjadi waria, lalu kembali menjadi laki-laki seutuhnya, dan sekarang rutin memberikan kesaksian-kesaksian kisahnya kepada jemaat.
Masyarakat Indonesia, terkhusus Surabaya, masih tidak bisa lepas dari anggapan bahwa kodrat manusia diciptakan hanya laki-laki dan perempuan.
Kepada masyarakat, Lukas berpesan bahwa seharusnya waria juga dirangkul dan diberikan ruang untuk mengeksplor dirinya, karena mereka juga manusia. Menyambung hal tersebut, Sonya juga turut memberikan pesan “khusus” berupa solusi perihal mengurangi diskriminasi terhadap Waria.
“Orang-orang, terkhusus masyarakat Indonesia dan Surabaya, harus memiliki mindset tentang inklusif terlebih dahulu, yaitu mau menerima bahwa identitas gender tidak hanya laki-laki dan perempuan saja, lalu kemudian negara juga harus memberikan ruang dan kesempatan kerja kepada mereka (waria), melalui penyamarataan hak”, tutup Sonya menjelaskan solusi terbaik agar Waria tidak melulu dipandang sebelah mata.
Penulis: R. Josaphat B. N. B
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






