Surabaya (beritajatim.com) – Denda Rp 200 juta yang dijatuhkan kepada Persebaya Surabaya akibat insiden flare saat laga kontra Bali United memunculkan pro dan kontra di kalangan suporter. Salah satunya datang dari Syaiful Alam, suporter asal Surabaya Selatan.
Menurut Syaiful, manajemen Persebaya dinilai terlalu emosional dalam menanggapi sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Ia menilai seolah-olah denda tersebut hanya menimpa Persebaya, padahal klub lain seperti Persik Kediri dan Persib Bandung juga pernah mengalami hal serupa.
“Seakan-akan yang didenda hanya Persebaya saja. Padahal, musim ini baru kali ini tim mendapat sanksi seperti ini, tidak seperti musim-musim sebelumnya,” ujarnya, Minggu (1/6/2025).
Ia mengingatkan agar manajemen tidak sekadar menyalahkan suporter, namun juga melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk dalam hal pengamanan dan pemeriksaan barang bawaan di pintu masuk stadion.
“Selama ini di gate stadion, botol parfum bisa ditahan tapi flare bisa lolos. Ini perlu jadi catatan serius,” tambahnya.

Syaiful juga menyarankan agar edukasi kepada suporter diperkuat, terutama soal disiplin dan kepatuhan terhadap aturan stadion. Ia menilai euforia flare bisa jadi berasal dari kekecewaan suporter usai Persebaya kalah dari Bali United di pekan ke-34 Liga 1 2024/2025, sekaligus bentuk penutupan musim yang tidak sesuai harapan.
Sebelumnya, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persebaya Surabaya, Ram Surahman menegaskan bahwa tindakan flare sangat merugikan klub dan tak dapat ditoleransi. Ia menyatakan manajemen akan mengusut pelaku dan menjatuhkan sanksi tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
“Yang pasti, akan ada konsekuensi yang diterima oleh pelaku,” tegas Ram.
Sanksi dari Komdis PSSI dijatuhkan berdasarkan pelanggaran Pasal 70 ayat 1 dan 2 serta Lampiran 1 Nomor 5 Kode Disiplin PSSI Tahun 2023. Dalam surat keputusan Komdis, insiden flare dinilai menyebabkan pertandingan sempat terhenti sementara. [way/but]






