Malang (beritajatim.com) – Malang bukan hanya nama geografis. Ia adalah persilangan kultur, tempat bertemunya mereka yang datang dari pelosok desa, masyarakat lokal yang telah lama menetap, dan pendatang dari pusat-pusat urban seperti Jabodetabek. Sebagai salah satu kota pendidikan terbesar di Jawa Timur, Malang setiap tahunnya menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru negeri, termasuk dari Jakarta dan sekitarnya.
Udaranya yang masih sejuk, biaya hidup yang terjangkau, serta keberadaan kampus-kampus ternama seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), UIN Maliki, hingga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjadikan kota ini magnet pendidikan di Pulau Jawa.
Namun, seiring waktu, bukan hanya pertambahan jumlah mahasiswa yang menjadi sorotan. Fenomena sosial dan kultural yang dibawa oleh mahasiswa luar daerah, khususnya dari Jakarta, mulai menciptakan dinamika baru di ruang-ruang sosial kampus. Salah satu yang paling mencolok adalah perubahan dalam cara berbahasa dan pembentukan identitas diri.
Seorang content creator dengan akun Instagram bernama @Gilang.her lewat menyoroti logat mahasiswa di berbagai kampus di Malang. Dalam video-video satirnya, ia mengasosiasikan UM dengan logat ‘peh’ khas Jawa, Unisma dengan logat Madura, UMM dengan nuansa Kalimantan, dan UB, sebagai kampus terbesar di Malang, dengan logat ‘ala’ Jakarta.
Bukan tanpa alasan, UB memang telah menjelma menjadi semacam kota dalam kota. Dominasi mahasiswa dari Jabodetabek melahirkan atmosfer urban yang khas, menciptakan ruang sosial yang terasa Jakarta meski berlokasi di jantung Jawa Timur.
Vandy, mahasiswa Antropologi semester 4 asal Jakarta yang kuliah di UB, mengaku prihatin melihat teman-temannya yang justru menanggalkan jati diri demi mengikuti gaya Jakarta.
“Saya dan beberapa teman dari Jakarta justru belajar bahasa Jawa untuk menghormati mahasiswa lokal. Sayangnya, banyak mahasiswa dari luar Jabodetabek yang malah ikut-ikutan gaya ‘lo-gue’ padahal medok juga. Seolah malu dengan identitas aslinya,” ujar Vandy kepada beritajatim.com, beberapa waktu lalu.
Ia menilai kehadiran mahasiswa dari Jakarta memang membawa pengaruh besar, bahkan bisa menciptakan standar baru soal kekerenan di lingkungan kampus.
Ruth, mahasiswa UB lainnya asal Jakarta, menilai tidak ada masalah jika mahasiswa non-Jakarta menggunakan gaya berbahasa ‘lo-gue’. Namun ia menyayangkan jika hal itu dilakukan hanya demi diterima.
“Aku pribadi nggak masalah. Tapi kalau ikut-ikutan karena FOMO atau gengsi, sayang aja. Fit in itu bukan soal ‘lo-gue’ atau ‘aku-kamu’, tapi soal pembawaan diri dan topik obrolan yang nyambung,” jelasnya.
Ruth juga menekankan bahwa mahasiswa Jakarta pun perlu beradaptasi dengan budaya lokal. Termasuk belajar menggunakan bahasa Jawa atau logat daerah lain.
Rafi Azzamy, mahasiswa asli Malang yang juga menempuh studi di UB, menyebut fenomena ini sebagai bentuk akulturasi yang wajar. Namun ia mengkritisi adanya anggapan bahwa logat ‘lo-gue’ hanya milik orang Jakarta.
“Awalnya memang geli dengar orang Jawa pakai ‘lo-gue’, tapi lama-lama jadi gaya komunikasi baru. Tapi jangan sampai muncul stigma kalau orang Jawa nggak pantas ngomong kayak gitu. Itu rasis,” tegas mahasiswa antropologi UB ini.
Rafi menilai, stereotip mahasiswa Jakarta sebagai anak gaul, banyak uang, dan eksklusif. Sementara, di sisi lain, mahasiswa lokal dianggap lugu dan kuno, adalah gambaran sempit yang perlu dilawan.
Sementara itu, Kaffi, mahasiswa pascasarjana asal Makassar yang kuliah di UB, juga mengamati tren mahasiswa non-Jakarta yang ikut-ikutan menggunakan logat ibukota.
“Budaya itu justru memperkaya kampus, tapi saya geli melihat mahasiswa dari luar Jakarta yang sok-sokan pakai ‘lo-gue’ hanya demi pengakuan. Jangan sampai mereka lupa bahasa sendiri,” ucapnya.
Fenomena ini mendapat atensi dari akademisi UB. Titis Bayu Widagdo, dosen dan pemerhati bahasa dari UB, menyebut bahwa masyarakat Indonesia masih terjebak dalam mentalitas inferior.
“Bahasa Jakarta dianggap simbol modernitas dan kekinian. Ini diperkuat oleh media yang terus menampilkan budaya Jakarta sebagai pusat segalanya. Akibatnya, bahasa daerah makin terpinggirkan,” ungkap Titis.
Ia menambahkan, degradasi bahasa lokal seperti bahasa Jawa yang dulunya memiliki sembilan tingkat tutur, kini menyusut hanya pada ‘ngoko’ dan ‘krama.’ Upaya pelestarian bahasa seharusnya menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan, bukan sekadar wacana dalam kongres formal.
Fenomena ‘Malang rasa Jakarta’ adalah refleksi dari dinamika sosial yang lebih besar. Ketika satu identitas budaya mendominasi dan menjadi acuan, muncul pertanyaan besar: akankah kekayaan budaya lokal tetap bertahan?
Malang kini tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tapi juga ruang kontestasi budaya. Akulturasi memang tak terhindarkan, namun di tengah derasnya arus pergaulan, penting bagi generasi muda untuk tetap membumi dan merawat akar. (dan/but)






