Jember (beritajatim.com) – Perekonomian Jawa Timur pada triwulan pertama 2025 terjaga karena ditopang tiga faktor, yakni lebih tingginya konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan net ekspor.
Perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga menopang perekonomian Jatim seiring kenaikan permintaan pada Imlek, Ramadan, dan persiapan Idulfitri, Ini tecermin dari peningkatan penjualan eceran komponen makanan minuman.
Peningkatan kinerja Google Trend jasa makanan menunjukkan masih tingginya minat masyarakat kepada jasa makanan minuman. Selain itu, kenaikan KPR (Kredit Pemilikan Rumah), KPA (Kredit Pemilikan Apartemen), dan multiguna ikut menopang konsumsi rumah tangga.
Sementara itu faktor peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan pertama 2025 dibandingkan triwulan sebelumnya, didukung oleh peningkatan belanja APBD 39 organisasi perangkat daerah di Jawa Timur.
“Namun demikian, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan termoderasi sejalan dengan normalisasi belanja pemerintah pasca tahun politik,” kata M. Barik Bathaluddin, ekonom ahli Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, dalam acara Road to East Java Economic (Ejavec) 2025, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (16/5/2025).
Peningkatan belanja APBD sendiri ditopang pertumbuhan belanja pegawai, belanja barang, dan belanja bantuan sosial. Kenaikan belanja pegawai sejalan dengan penyaluran tunjangan hari raya untuk aparatur sipil negara pada Maret 2025.
Namun peningkatan konsumsi Pemerintah Jawa Timur yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan belanja APBN, utamanya pada komponen belanja barang.
Kendati begitu belanja bansos meningkat sejalan dengan perluasan penyaluran program perlindungan sosial dan pendidikan. Perbaikan belanja bansos turut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga di triwulan pertama 2025.
Terakhir, perekonomian Jatim ditopang kinerja ekspor yang masih tumbuh positif, kendati melambat, di tengah perlambatan impor yang lebih dalam, Beberapa komoditas ekspor utama meliputi lemak minyak, produk kimia, tembakau dan rokok.
Sementara itu, dari sisi penawaran, kinerja ekonomi Jawa Timur tetap terjaga pada pertumbuhan lapangan usaha pertanian yang lebih tinggi seiring dengan panen raya padi dan peningkatan produksi hortikultura cabai rawit.
Peningkatan kinerja lapangan usaha akomodasi makan minum didukung oleh kenaikan permintaan pada komponen makanan minumanm seiring adanya Imlek, periode Ramadan, dan persiapan idulfitri 2025. [wir]






