Blitar (beritajatim.com) – Beberapa hari terakhir, warga Kabupaten Blitar dihebohkan dengan viralnya sebuah video yang memperlihatkan seorang pria paruh baya dalam kondisi terluka tergeletak di jalan utara Kali Ganter, Desa Candirejo, Kecamatan Ponggok.
Video tersebut memperlihatkan suasana mencekam saat warga berkerumun di sekitar tubuh pria tersebut yang terlihat bersimbah luka.
Dalam narasi video, pembuatnya menyebut bahwa pria tersebut adalah korban aksi begal. Spontan, warga sekitar yang melintas langsung memberikan pertolongan dan menghubungi aparat keamanan. Tak lama berselang, Polsek Ponggok langsung merespons laporan tersebut dan membawa pria tersebut ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Namun, dari hasil pemeriksaan awal di rumah sakit, ditemukan bahwa pria yang disebut-sebut sebagai korban begal tersebut ternyata dalam kondisi mabuk berat.
“Masih kita dalami, karena korban tadi malam masih belum bisa kita ajak komunikasi untuk kita mintai keterangan karena masih pengaruh minuman keras,” ucap AKP Tri Muliarso, Kapolsek Ponggok, Minggu (11/05/2025).
Hingga kini, polisi belum dapat memastikan apakah pria tersebut benar-benar menjadi korban begal atau justru terluka karena hal lain. Menurut informasi dari pihak keluarga, pria tersebut memang memiliki kebiasaan keluar rumah dan pulang dalam kondisi mabuk.
“Menurut istrinya, korban ini awalnya dijemput sama laki-laki dibonceng motor terus tiba-tiba malam kok sudah di pinggir jalan penuh luka itu, tapi kebiasaan korban ini seperti itu dia sering keluar terus pulang-pulang mabuk,” tegas AKP Tri Muliarso.
Pihak kepolisian pun masih terus mendalami peristiwa ini dan belum menetapkan adanya unsur tindak pidana dalam kejadian tersebut. Meski demikian, Kapolsek Ponggok tetap mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi kejahatan jalanan, termasuk begal, yang kerap terjadi di malam hari.
Kejadian ini menjadi perhatian publik, terlebih karena narasi awal yang menyebar menyebutkan bahwa pria tersebut adalah korban begal. Polisi menegaskan pentingnya tidak langsung menyimpulkan penyebab kejadian sebelum ada hasil penyelidikan resmi. Masyarakat juga diimbau untuk bijak dalam membagikan informasi di media sosial agar tidak menimbulkan kepanikan yang tidak perlu. [owi/suf]






