Pacitan (beritajatim.com) – Makanan tradisional tiwul tak lagi identik dengan kesan kuno. Di tangan pasangan suami istri Srini (43) dan Saiful (48) asal Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan, Pacitan, tiwul justru menjelma menjadi produk modern yang praktis dan bernilai ekonomi tinggi.
Menggunakan bahan dasar gaplek, Srini dan Saiful memproduksi tiwul instan yang cukup diseduh selama lima menit sebelum disajikan. Inovasi ini telah mereka tekuni sejak 2006 dan kini mampu meraih omzet hingga Rp6 juta per bulan.
“Kami produksi rutin setiap hari, terutama saat musim kemarau. Bisa sampai 40-50 kilogram per hari,” ujar Srini, ditulis Minggu (4/5/2025).
Tiwul instan buatan mereka dikemas dalam ukuran 400 gram dan dijual seharga Rp8.000. Pemasarannya kini tidak hanya di Pacitan, tapi juga merambah Semarang, Surabaya, bahkan luar Jawa.
Srini menceritakan, awal usaha ini dimulai bersama kelompok warga, namun banyak yang memilih mundur karena penjualan belum stabil. Ia tetap bertahan dan kini hasilnya bisa digunakan untuk menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. “Tiwul ini sehat, tanpa pengawet dan bebas gluten,” tambah Srini.
Proses pembuatan tiwul instan memakan waktu cukup panjang. Setelah gaplek diolah menjadi butiran kecil, produk ini dimasak selama 15 menit, kemudian kembali dijemur hingga benar-benar kering. Di musim kemarau, pasangan ini mampu memproduksi hingga 40-50 kilogram tiwul instan per hari.
Namun, produksi sedikit terkendala saat musim hujan karena membutuhkan waktu lebih lama untuk pengeringan. [tri/suf]






