Jakarta (beritajatim.com) — Memasuki bulan Mei, adagium klasik pasar modal “Sell in May and Go Away” kembali mencuat. Istilah yang populer di dunia Barat ini menyarankan investor untuk menjual saham menjelang musim panas dan kembali masuk pasar setelah Oktober. Namun, Head of IPOT Fund, Dody Mardiansyah, menilai strategi tersebut tidak bisa diterapkan secara kaku di tengah dinamika pasar saat ini.
“Lanskap pasar global saat ini menampilkan karakteristik yang jauh berbeda. Kita tengah berlayar di tengah samudra volatilitas yang tinggi,” ujarnya, Sabtu (3/5/2025). Ia menyoroti perlambatan ekonomi, ancaman resesi, kebijakan moneter yang berubah-ubah, hingga tensi geopolitik sebagai pemicu utama ketidakpastian.
Adagium tersebut berasal dari pepatah lama Inggris yang menggambarkan kebiasaan pedagang dan bangsawan meninggalkan pasar selama musim panas. Secara historis, performa pasar saham memang cenderung melemah dari Mei hingga Oktober. Namun menurut Dody, pendekatan semacam ini harus disikapi dengan hati-hati.
“Kondisi pasar yang sangat volatil saat ini menuntut analisis yang lebih mendalam dan responsif terhadap perubahan yang terjadi,” tegasnya. Ia menyarankan investor untuk menerapkan manajemen risiko yang disiplin, diversifikasi portofolio, dan penyesuaian aset berdasarkan profil risiko pribadi.
Ia juga menekankan bahwa dinamika pasar saham Indonesia tidak selalu mencerminkan pola pasar negara maju. Karena itu, investor perlu melakukan analisis lokal yang lebih spesifik agar keputusan investasi tidak hanya berlandaskan asumsi musiman.
Dalam situasi pasar yang tak menentu, Dody menyarankan produk investasi yang lebih stabil seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). RDPU dinilai lebih fleksibel dibandingkan RDN dan deposito, serta berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi tanpa penalti pencairan.
“Dengan strategi yang tepat, seperti memilih RDPU yang tersedia di platform IPOT Fund milik PT Indo Premier Sekuritas saat market tidak menentu, investor bisa tetap tenang dan siap kembali masuk ke pasar saham saat momentum membaik,” tutup Dody. [beq]






