Bondowoso (beritajatim.com) — Bulog Bondowoso menambah dua mitra penggilingan gabah (makloon) baru. Penambahan mitra sebagai tindak lanjut Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi II DPRD Bondowoso.
Langkah ini diambil untuk mempercepat penyerapan gabah kering panen (GKP) petani di tengah keterbatasan kapasitas mitra yang sebelumnya menjadi sorotan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Komisi II DPRD Bondowoso menyoroti lambatnya penyerapan gabah oleh Bulog akibat keterbatasan kapasitas penggilingan serta kekurangan tenaga lapangan.
Komisi II mendorong agar Bulog memperluas kerja sama dengan masyarakat yang memiliki lantai jemur, gudang, atau selep kecil, agar serapan gabah meningkat.
“Sebenarnya konsep dari pemerintah ini bagus. Petani sangat diuntungkan. Tapi di lapangan masih banyak miskomunikasi dan hambatan teknis,” tegas Ketua Komisi II, Tohari usai RDP beberapa waktu lalu.
Wakil Pemimpin Cabang Bulog Bondowoso, Tirto Panji Prasetyo, menyatakan bahwa pihaknya kini memiliki 13 mitra makloon aktif, dari sebelumnya 11. Sementara jumlah mitra besar yang memasok beras ke Bulog mencapai 28 mitra.
Sebagai informasi, mitra makloon adalah mitra penggilingan gabah skala kecil hingga menengah ataupun besar, yang berperan penting dalam proses penerimaan, pengeringan, penggilingan, hingga penyetoran beras ke gudang Bulog.
“Kita merangkul semua mitra, baik besar, sedang, maupun kecil,” kata Tirto pada BeritaJatim.com, Selasa (29/4/2025).
Bulog Cabang Bondowoso menjamin tidak ada diskriminasi kerjasama pada mitra penggilingan gabah.
“Semua bisa bekerja sama asal memenuhi syarat administrasi seperti KTP, NPWP, NIB, dan mengisi form yang disiapkan,” jelasnya.
Tirto juga menegaskan, penyerapan gabah di wilayah Kecamatan Jambesari Darussholah yang sebelumnya dikeluhkan petani, sebenarnya sudah diupayakan.
Namun, keterbatasan kapasitas gudang mitra membuat prosesnya harus dijadwalkan agar penyerapan merata.
“Dengan mempertimbangkan kapasitas mitra penggilingan yang ada dan demi menjaga kualitas, proses penerimaan kemarin kami sesuaikan agar tidak terjadi penumpukan yang berdampak pada mutu gabah,” bebernya.
Menurutnya, Penting bagi Bulog untuk memastikan penyerapan gabah tetap berjalan serta memerhatikan kualitas sesuai dengan standar.
“Karena kita menggunakan dana pemerintah. Jadi jangan sampai terjadi kerugian negara,” ungkapnya.
Bulog menargetkan penyerapan setara beras sebanyak 38.100 ton. Saat ini, capaian realisasi sudah mencapai sekitar 45 persen.
“Kami optimistis target tersebut bisa tercapai dengan dukungan dari Jajaran Kodim, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Pemerintah Daerah,” yakin Tirto.
Harga pembelian Bulog untuk Gabah Kering Panen (GKP) atau Gabah Kering Sawah (GKS) tetap Rp 6.500 per kilogram.
Perum BULOG juga mendorong partisipasi masyarakat yang memiliki informasi mengenai keberadaan penggilingan padi yang layak untuk dapat dijajaki kerja sama.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas jaringan pengolahan gabah dan secara langsung meningkatkan serapan hasil panen petani secara berkelanjutan. (awi/but)






