Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur akan membentuk lima kelompok kerja (pokja) yang masing-masing berfokus pada persoalan-persoalan yang berbeda. Tim ini akan melibatkan masyarakat.
Pokja Kemiskinan
Dinas Sosial akan memimpin kelompok kerja (pokja) yang bertugas memverifikasi data kemiskinan, khususnya di perdesaan. Selama ini data kemiskinan di Jember mengacu pada Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) milik pemerintah pusat.
“Kami ,membuat pokja menyukseskan verifikasi dan pendataan DTSEN, sehingga di dalam penyusunan APBD 2026, kita betul-betul bisa memetakan dengan tepat warga yang termasuk kategori miskin,” kata Fawait, dalam konferensi pers seratus hari kerja, Senin (14/4/2025) malam.
Pokja Guru Ngaji
Selain itu, Fawait membentuk kelompok kerja verifikasi dan validasi calon penerima insentif guru ngaji. “Harapan kami tim ini di level kabupaten, dan terus dibentuk hingga level kecamatan dengan dipimpin camat dan melibatkan ormas-ormas yang kredibel dan terlibat,” katanya.
Fawait ingat pada masa pemerintahan Bupati MZA Djalal, verifikasi dilakukan dengan melibatkan majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama. “Kami berharap ke depan selain melibatkan OPD terkait, juga melibatkan masyarakat dan organisasi masyarakat,” katanya.
:Langkah ini diambil Fawait untuk memastikan insentif guru ngaji bisa direalisasikan sebelum akhir tahun.
“Saya sudah sampaikan kepada OPD yang menjadi penanggung jawab utama. Selain kecepatan, jangan sampai menunggu akhir tahun (untuk meralisasikan), juga mekanisme pemberian insentif guru ngaji harus secara terhormat,” katanya.
Fawait ingin guru ngaji tidak mengantre di bank saat mencairkan insentif. “Pembukaan rekening cukup di desa-desa, sehingga tidak perlu antre sampai berjubel seperti tahun-tahun sebelumnya. Harapan saya para guru ngaji bisa secepat-cepatnya mendapatkan insentif dari Pemkab Jember,” katanya.
Pokja Beasiswa
Sementara untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Fawait ingin warga Jember bisa mengakses pendidikan tinggi. “Kami bertekad 20 ribu anak Jember akan mendapat beasiswa dari Pemkab Jember. Untuk merealisasikan itu, kami membentuk pokja atau tim khusus verifikator calon penerima bea siswa yang diketuai Kepala Dinas Pendidikan,” katanya.
Fawait ingin pokja ini melibatkan OPD di luar Dinas Pendidikan dan masyarakat. “Syukur-syukur dibutuhkan sampai level kecamatan. Kalau tidak dibutuhkan, cukup sampai level kabupaten. Intinya anak-anak Jember bisa segera menikmati beasiswa yang disediakan Pemkab Jember,” katanya.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, Pemkab Jember tak hanya membantu biaya UKT (Uang Kuliah Tunggal). Setelah dilakukan efisiensi anggaran, Pemkab Jember akan memberikan bantuan biaya hidup.
“Alhamdulillah sudah ada kemajuan yang ditunggu-tunggu keinginan masyarakat. Harapan kami ini bisa membuat anak-anak di Jember bisa lebih bersemangat menempuh pendidikan di kampus-kampus seluruh Indonesuia,” kata Fawait.
Pokja Pupuk
Pokja lain yang akan dibentuk khusus menangani sektor pangan. “Kami akan bentuk tim khusus untuk memastikan pupuk subsidi betul-betuk bisa dinikmati masyarakat. Tidak boleh lagi ada kelangkaan pupuk subsidi. Kami membentuk tim verifikator yang juga akan memastikan pupuk subsidi itu bisa diterima yang berhak,” kata Fawait.
Fawait tak ingin ada lagi kekurangan pupuk bersubsidi. “Kami termukan di lapangan, kekurangan pupuk bersubsidi kadang dikarenakan ada kendala teknis saat meng-upload RDKK. Maka tim itu bertugas merumuskan agar kendala itu tidak terjadi lagi, sehingga kebutuhan pupuk bersubsidi di Jember bisa tergambar sesuau kebutuhan di lapangan,” katanya.
Pokja Koperasi Merah Putih
Terakhur, untuk pembentukan Koperasi Merah Putih sebagaimana diperintahkan Presiden Prabowo Subianto, Pemkab Jember membentuk tim untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan asosiasi pemerintah desa.
“Koperasi Merah Putih diharapkan menyumbangkan perekonomian di desa agar bisa menggeliat, karena kita tahu kemiskinan mayoritas di desa-desa,” kata Fawait.
“Bahkan kami berkomitmen koperasi-koperasi ini akan kita beri ruang lebih luas untuk masuk ke sektor-sektor ekonomi, yang mungkin selama ini tidak dimasuki koperasi karena keterbatasan dan sebagainya,” kata Fawait.
Koperasi juga diharapkan menjadi mitra Bulog dalam menyerap gabah petani sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah pusat.
“Kita paham Bulog punya keterbatasan gudang dan pengering. Mudah-mudahan ke depan, koperasi bisa ikut andil menyediakan gudang-gudang. Kalau perlu kita akan membantu beberapa koperasi agar memiliki alat pengeringan padi untuk membantu Bulog menyerap padi petani,” kata Fawait. [wir]







2 Komentar
Baiknya beasiswa diberikan 1 paket selesai (1 org, 1 paket beasiswa sampai selesai tepat waktu/4tahun), jadi tdk ngajukan setiap tshun spt yg selama ini dipraktekkan, shg 20.000 mhs adalah 20.000 paket beasiswa mulai semester satu sampai selesai. Kalau S2 berarti 2tahun/4 semester.
Selama ini, pengajuan setiap tahun, 1 mhs tahun ini dapat, tahun depan belum tentu dapat…
Pokja Beasiswa perlu profesional dan amanah
Bagus programnya semoga berhasil dan bermanfaat. Namun kami selaku pegiat seni dan budaya tidak masuk program prioritas, ini sangat memprihatinkan orang Jember tidak akan mengenal budaya nenek moyang, padahal perkembangan masyarakat Jember tidak terlepas dari periode peradaban yang ada dan berkembang dari jaman prasejarah peninggalan prasejarah batu kenong , menhir, dolmen yang tersebar di Jember Utara, kec Arjasa apalagi musium di Dinas belakang dinas pendidikan sangat memprihatinkan. Selain itu budaya tak benda juga terlupakan, kesenian Tak Bhuta An yang tersebar di Jember Utara Juga terlupakan.
Semoga informasi ini dapat perhatian dari Pemerintah Kab Jember dan Juga DPRD Jember yang terhormat.