Surabaya (beritajatim.com) – Ketika August Mahieu ingin membawa seni hiburan baru bagi rakyat Indonesia dari semua ras pada tahun 1890-an, ia terinspirasi terutama oleh opera dan operet, mungkin juga – meski dalam tingkat lebih rendah – oleh teater di masanya.
Raja-raja dan ratu-ratu dari “Grand Opéra” – Mahieu pernah ke Paris – ia ubah menjadi “radja” dan “permaisoeri” dengan gaya 1001 Malam ala Timur. Pangeran dan putri menjadi “poetera” dan “poeteri”, bidadari dan peri menjadi “widodari” dan “peri”. Pemeran utama pria disebut “anak moeda”, berbeda dengan orang tua (seperti pendeta, peramal, penyihir dll.) yang disebut “orang toea”.
Pelawak dalam kelompok Mahieu disebut “badoet”, “banjoet”, “banjolan”, atau nama lainnya. Bintang opera “grande amoureuse” menjadi “sri pangoeng” Komedie Stamboel. Begitulah selama bertahun-tahun.
Namun antara 1920-1930, pengaruh politik, ekonomi dan budaya membuat orang Indonesia lebih sadar diri daripada sebelumnya. Mereka muncul di depan dalam organisasi politik, serikat pekerja dan lainnya, perlahan tapi pasti menuntut hak bersuara di dewan-dewan publik, menjadi lebih mandiri, berorientasi tujuan, dan lebih nasionalis dalam seni, terutama di “Komedie Stamboel”.
Andjar Asmara – yang kini menjadi sutradara di perusahaan film baru “South Pacific Corporation” di Batavia – pada Oktober 1931 menulis:
“Seperti Anda jengkel pada bangsawan (komedie stamboel) yang mementaskan lakon Eropa, saya juga jengkel. Peran Eropa di tangan pribumi – kalimat ini ditulis 17 tahun lalu – lebih dari sekedar lucu. Bahkan begitu konyolnya hingga banyak orang Eropa datang ke bangsawan hanya untuk menertawakan kesalahan aktor pribumi yang berusaha keras memerankan peran Eropa. Jadinya cuma tawa-tawa saja.”
“Karena itu: peran pribumi harus tetap di tangan pribumi. Penerapan teknik Barat hanya bisa menyempurnakan seni baru ini.”
“Dari sudut pandang ini, teater Melayu sepenuhnya berhak menyandang kata Seni. Saya membayangkan dalam beberapa tahun teater Melayu akan mendapatkan tempatnya sendiri. Sesuatu yang mandiri dan menuntut pengakuan penuh untuk dimasukkan dalam barisan Seni. Film pun awalnya tidak diakui sebagai Seni, tapi perkembangan akting dan teknik memaksanya diakui sebagai Seni yang mandiri.”
Jika Mahieu pada 1891 adalah “pendiri” Komedie Stamboel, maka penulis kalimat di atas, Andjar Asmara, pantas disebut “pembaharu” bangsawan. Ia lulus MULO di Batavia lalu menjadi jurnalis di berbagai surat kabar Indonesia selama delapan tahun. Seperti Mahieu 40 tahun sebelumnya, ia sangat tertarik pada Teater dan mungkin – seperti tersirat di atas – lebih tertarik lagi pada Film Modern.
Pada 1930, Andjar Asmara menjadi manajer kelompok kabaret baru “Dardanella”. Perhatikan pembaruan khas dari nama model lama. “Komedie” dan “Toneel” hampir sama. (1) Stamboel dan Dardanella tidak jauh berbeda. Tapi “Cabaret” jelas merupakan unsur baru dalam penamaan ini. Dari mana datangnya begitu tiba-tiba?
Pada 1930, dua artis asing bergabung dengan kelompok “Dardanella” yang khusus menangani bagian kabaret – lebih tepatnya bagian pertunjukan – dari program. Salah satunya adalah Herbert Marczak Tamare yang berpengalaman bertahun-tahun sebagai artis kabaret, revue dan pertunjukan di Eropa dan Amerika.
Yang lain adalah Henry Duarte – orang Amerika-Filipina yang masih terkenal di Surabaya – dengan karir unik sebagai “stage and show dancer”. Fred Astaire (penari tap terbesar Amerika) dan Victor Sylvester (pemimpin band dan dansa terkenal Inggris) adalah teman baiknya. Duarte pernah tampil sukses di “Kidd Circuit”, teater pertunjukan ternama di Amerika saat itu.
Di “Dardanella”, Duarte khusus bertugas melatih bagian dansa dalam selingan. Apa yang berhasil ia capai dengan para chorusgirl Indonesia tidak pernah kami lihat lagi sejak itu dari kelompok opera atau sandiwara Melayu. Kami masih ingat sebuah “comical parody” oleh 12 wanita grenadier yang benar-benar bagus dalam genrenya – penuh gaya dan ritme.
Kami sengaja menyimpang sebentar untuk menegaskan pengaruh asing dalam perkembangan stamboel. Sementara bagian utama – teater sesungguhnya – justru menjadi lebih Indonesia, karena Andjar Asmara menulis beberapa lakon sukses (seperti Dr. Samsi, Rentjong Atjeh, Black Shadows – Bayangan Hitam di Jalan Malaka – Si Bengkok dan Haïda) yang diangkat dari situasi modern Indonesia.
Setelah mengenal tiga tokoh utama kelompok penting dalam sejarah stamboel ini, kami ingin memperkenalkan dua wanita yang namanya juga pantas dikenang: Miss Riboet dan Miss Dja. Keduanya adalah kelas tersendiri.
Miss Riboet – primadonna kelompok Orion dan Dardanella – setelah mengumpulkan cukup uang dari nyanyian dan aktingnya, kemudian bekerja mandiri. Ketika kami mengenalnya sekitar 1930, ia adalah wanita kecil yang lincah dan menyenangkan, hanya berbicara bahasa Melayu meski tiap malam menyanyi tidak hanya dalam bahasa Melayu dan Jawa, tapi juga Belanda, Arab, Inggris, Cina dan Turki.
“Tapi kami mendengar Anda bernyanyi dalam bahasa Inggris dan Belanda tadi malam. Apakah Anda tidak bisa bahasa Belanda?” tanya seorang wartawan saat itu.
Dengan licik ia menjawab: “Hanya bisa: satu, dua, tiga. Saya mendengar lagu sekali atau dua kali, minta dijelaskan arti katanya, lalu menyanyikannya. Saya sendiri tidak tahu bagaimana melakukannya, tapi saya benar-benar tidak bisa bahasa-bahasa itu.”
Ia sudah bermain peran utama selama tiga tahun. Ketika ditanya dari siapa ia belajar akting, ia menjawab – dan kami sengaja mengutipnya karena sangat khas – “Saya belajar dari bioskop. Dulu saya sering ke bioskop dan sekarang paling suka menonton Pola Negri, Norma Talmadge (diucapkannya terbata-bata) dan Asta Nielsen.”
Ia juga tidak pernah belajar musik. “Tapi ketika mendengar musik – cerita Miss Riboet hampir 17 tahun lalu – saya mudah menangkap nadanya dan juga liriknya, meski tidak memahaminya.” Jadi semacam bakat alami seperti yang ditemukan di kalangan Negro Amerika.
“Baru-baru ini dalam sembilan hari saya harus menyanyi seratus lagu untuk gramofon, dan masih harus tampil setiap malam. Cukup melelahkan,” kata artis kabaret Indonesia ini.
Bahwa Miss Riboet bukan orang yang bisa diremehkan, terlihat dari adegan berikut yang pernah kami saksikan. Kami melihatnya berjalan di hutan gelap – hutan panggung tentunya – diserang oleh empat penjahat. Karena ini lakon Cina, sang putri berkata-kata pada bandit itu dalam bahasa Cina. Ia memberikan pukulan kungfu Cina pada satu penjahat hingga terjengkang, yang lain hampir ia remukkan, dan yang ketiga ia lempar melewati bahunya ke sebuah pohon. [but]
*) Terjemahan bebas dari tulisan G.H. von Faber (Direktur Pendidikan Umum) yang dimuat di koran berbahasa Belanda “De Vrije Pers” (11-12-1948).






