Jakarta (beritajatim.com) – Pengumuman resmi tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS) pada 2 April 2025 memicu gejolak tajam di pasar keuangan global. Meskipun jadwal kebijakan ini telah lama diketahui dan diantisipasi, dampaknya tetap mengejutkan.
Dalam waktu lima hari, indeks saham utama dunia merosot signifikan, volatilitas melonjak drastis, dan kekhawatiran akan resesi global kembali mencuat.
Data menunjukkan indeks S&P 500 anjlok 10,13%, Nasdaq merosot 10,58%, Dow Jones kehilangan 9,58%, MSCI Europe turun 12,11%, dan MSCI Asia Pacific terkoreksi 11,26%. Tak hanya itu, harga minyak Brent menyusut 13,80%, sementara indeks volatilitas pasar (VIX) melonjak dari 21,77 ke 46,98 — meningkat 115,8%.
Mengapa Reaksi Pasar Sangat Ekstrem?
Menurut Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), reaksi pasar yang sangat negatif dipicu oleh dua hal utama: besarnya tarif yang dikenakan dan perubahan basis perhitungan tarif.
“Tarif yang diumumkan jauh melebihi ekspektasi pasar. Rata-rata tarif efektif AS melonjak dari 3% menjadi 25%, tertinggi dalam satu abad terakhir,” jelas Freddy Tedja.
Lebih lanjut, Freddy menyebutkan bahwa biasanya tarif resiprokal dihitung berdasarkan trade barrier atau hambatan perdagangan antarnegara.
Namun dalam kebijakan baru ini, AS mengubah pendekatannya dengan menggunakan trade gap atau defisit perdagangan sebagai dasar perhitungan, yang hasilnya bisa sangat tinggi terutama bagi negara-negara berkembang.
Contohnya, Indonesia terkena tarif 32%, karena ekspor Indonesia ke AS mencapai USD38,3 miliar, sementara impor dari AS hanya USD10,2 miliar. Negara lain seperti Sri Lanka dan Madagaskar bahkan dikenakan tarif lebih dari 40%.
Dampak Langsung ke Pasar Indonesia
Pasar Indonesia ikut tertekan. Setelah libur Idulfitri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan penurunan tajam hingga 9%, memicu penghentian perdagangan sementara. Pada penutupan 8 April 2025, IHSG melemah ke level 5.996,14 atau turun 7,9%.
Di pasar obligasi, imbal hasil SBN 10 tahun naik tipis ke 7,10%, dari sebelumnya 7,00%. Sedangkan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS bergerak di kisaran Rp16.800, setelah sempat menyentuh Rp17.000 di pasar luar negeri.
Pemerintah melalui Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan Indonesia akan menempuh jalur negosiasi bersama ASEAN dan tidak akan menerapkan tarif balasan.
Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup solid untuk menghadapi tantangan global.
Pandangan Manulife Investment Management
Presiden Trump menyebut 2 April sebagai “Liberation Day”, hari pembebasan AS dari “praktik tidak adil” mitra dagangnya. Namun, menurut Freddy Tedja, justru kebijakan ini menimbulkan ketidakpastian baru yang mengganggu stabilitas pasar keuangan global.
“Ada tiga hal besar yang jadi pertanyaan pasar saat ini: apakah kebijakan tarif ini permanen, apakah akan ada pembalasan dari negara lain, dan seperti apa dampaknya terhadap ekonomi dan inflasi dunia?” ujarnya.
Freddy menjelaskan bahwa tarif pada dasarnya seperti pajak yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inflasi dalam jangka pendek. Bloomberg mencatat bahwa probabilitas resesi AS dalam 12 bulan ke depan meningkat dari 20% menjadi 30%.
Namun di sisi lain, pasar juga mulai berekspektasi adanya pelonggaran kebijakan moneter, dengan proyeksi pemangkasan suku bunga acuan The Fed menjadi empat kali tahun ini, dari sebelumnya dua kali.
Meski demikian, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa bank sentral tidak akan tergesa-gesa merespons kebijakan tarif dan akan tetap fokus menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang.
Dampak untuk Indonesia: Terbatas Tapi Perlu Diwaspadai
Freddy menekankan bahwa meskipun Indonesia terkena tarif tinggi, dampaknya relatif terbatas secara langsung. Ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 10% dari total ekspor atau 2,2% dari PDB. Bandingkan dengan Vietnam yang mencapai 33%, atau Malaysia dan Thailand masing-masing 13%.
Namun, Freddy mengingatkan bahwa dampak tidak langsung seperti perlambatan ekonomi global, inflasi, dan penurunan kepercayaan konsumen tetap menjadi risiko yang harus diperhatikan.
“Dalam jangka pendek, volatilitas pasar masih akan tinggi. Investor perlu memiliki portofolio yang terdiversifikasi dan aset-aset yang likuid agar bisa menghadapi ketidakpastian serta memanfaatkan potensi pembalikan sentimen pasar,” tutup Freddy Tedja. (ted)






