Surabaya (beritajatim.com) – Ketupat atau kupat menjadi sajian khas yang tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Uniknya, masyarakat Jatim biasanya menyajikan ketupat bukan saat Hari Raya pertama, melainkan pada hari kedelapan bulan Syawal.
Tradisi ini dikenal dengan sebutan Lebaran Ketupat atau Kupatan, yang secara turun-temurun menjadi bagian dari budaya lokal di pulau Jawa.
Menurut cerita yang berkembang di kalangan masyarakat, ketupat diciptakan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol dari filosofi kehidupan yang sarat nilai spiritual. Kata “kupat” sendiri diyakini merupakan akronim dari istilah Jawa, ngaku lepat, yang berarti “mengakui kesalahan”.
Tradisi ngaku lepat ini diwujudkan dalam bentuk sungkeman, yaitu tradisi meminta maaf kepada orang tua dan sesepuh dengan sikap rendah hati.
Dalam sungkeman, seseorang diajarkan untuk tidak hanya mengucapkan permintaan maaf secara verbal, tetapi juga memperlihatkan penyesalan yang tulus melalui gestur dan perilaku yang santun.
Lebih dari sekadar simbol pengakuan kesalahan, ketupat juga mengandung makna Laku Papat atau empat tindakan penting dalam menyambut Idulfitri, yakni:
1. Lebaran – Berarti “lebar” atau “usai”, yang menandakan berakhirnya ibadah puasa Ramadan.
2. Luberan – Bermakna “melimpah”, merujuk pada ajakan untuk berbagi rezeki melalui zakat fitrah.
3. Leburan – Artinya “lebur” atau “hapus”, menandakan dihapusnya dosa-dosa setelah saling memaafkan.
4. Laburan – Berasal dari kata “labur” atau kapur, simbol dari pembersihan lahir dan batin.
Selain ketupat, sajian lain yang sering hadir sebagai pendamping adalah lepet—makanan yang terbuat dari ketan dan kelapa, dibungkus janur. Dalam budaya Jawa, lepet memiliki makna filosofi tersendiri. Istilah lepet merupakan singkatan dari silep kang rapet, yang artinya “menutup rapat”.
Ini menggambarkan bahwa setelah seseorang mengakui kesalahan dan dimaafkan, maka kesalahan itu seharusnya tidak diungkit kembali. Diharapkan, hubungan antarsesama menjadi erat seperti lengketnya ketan dalam lepet.
Janur yang membungkus ketupat dan lepet pun menyimpan makna spiritual. Dalam bahasa Arab, “janur” dikaitkan dengan Ja’an-nur yang berarti “telah datang cahaya”.
Bentuk ketupat yang segi empat melambangkan hati manusia. Ketika hati seseorang sudah dibersihkan melalui pengakuan dosa, maka hatinya akan tampak putih bersih saat dibelah, seperti isi ketupat itu sendiri.
Ketupat dan lepet bukan hanya makanan khas Lebaran, tetapi juga media penyampai pesan moral dan spiritual yang mendalam. Lewat sajian ini, masyarakat diajak untuk merefleksikan makna pengampunan, kesucian hati, dan pentingnya menjaga hubungan antarsesama. [fyi/suf]






