Mojokerto (beritajatim.com) – Sejak menjadi Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) 14 tahun lalu, Muhammad Ali Mashuri tak bisa berlebaran bersama keluarga. Pria 36 tahun ini harus merayakan moment Hari Raya Idul Fitri di atas kereta.
Seperti Lebaran kali ini, dipastikan warga Dusun Ngingas, Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto ini kembali merayakan Lebaran bersama para penumpang. Kondisi tersebut sudah disampaikan kepada sang istri sebelum keduanya menikah.
“Hampir 14 tahun. Dinas, kalau tidak di jaga stasiun ya pengawalan kereta api. Hampir setiap tahun tidak Lebaran di rumah, lebarannya kebanyakan Lebaran di atas kereta api,” ungkapnya, Jumat (28/3/2025).
Masih kata Mashuri, sejak berumah tangga ia sudah memberitahu kepada sang istri risiko dari pekerjaannya. Seperti sang istri dan keluarganya tidak bisa merasakan Lebaran bersama dirinya sehingga sang istri memahami pekerjaan sang suami.
“Sebelum menikah, sudah saya kasih tahu kalau bekerja di kereta api ini setiap Lebaran ataupun hari besar sudah dipastikan saya kebanyakan tidak di rumah dan dinas di atas kereta api atau di stasiun,” katanya.
Sebagai anggota Polsuska, ia bertugas menjaga perjalanan kereta api aman sampai stasiun terakhir. Sehingga saat kereta api tiba di stasiun terakhir, ia harus mengecek gerbong apakah masih ada penumpang atau barang penumpang yang kemungkinan tertinggal.
“Orang tua memang bangga, ini memang cita-cita saya sejak kecil ingin jadi polisi khusus kereta api tapi risikonya lebaran tidak bisa merayakan bersama keluarga,” pungkasnya. [tin/ian]






