Malang (beritajatim.com) – Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), Abdul Aziz mendukung penuh langkah Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam memberantas mafia migas.
Menurut Aziz, pasca Kejaksaan Agung yang dipimpin ST Burhanuddin membongkar kasus mega korupsi Pertamina, jagat maya dihebohkan dengan dugaan para mafia migas yang mengancam ingin menggulingkan Presiden Prabowo Subianto jika mengusut tuntas kasus oplosan Pertamax.
Aziz menjelaskan, menyaksikan pidato Presiden Prabowo yang tegas mengatakan tidak akan mundur menghadapi para koruptor dan mafia manapun, patut di dukung penuh seluruh rakyat Indonesia.
“Wibawa seorang pemimpin negara sebesar Indonesia harus dijaga bersama. Terlebih, agar perang melawan korupsi yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo, terus menyala-nyala. Dukungan rakyat sangatlah penting,” ungkap Aziz, Jumat (21/3/2025).
Aziz membeberkan, Pak Presiden Prabowo janganlah takut dengan ancaman yang coba menggertak dan mengganggu semangat pemberantasan korupsi, khususnya oplosan Pertamax yang menyangkut hajat hidup (transportasi) masyarakat luas.
“Ingat, Pak Prabowo terpilih sebagai kepala negara secara sah dengan dukungan rakyat Indonesia di belakangnya. Untuk itu, rakyat tidak ingin melihat pemimpinnya mengendap-endap di hadapan oligarki dan ciut nyali pada para mafia sehingga nasib negeri ini dipertaruhkan. Bapak telah menyatakan perang melawan koruptor. Komitmen yang patut diacungi jempol. Tinggal diikuti dengan sikap dan arahan yang tegas tentang pemberantasan korupsi di area basah, khususnya yang dimotori para penjahat kerah putih,” tegasnya.
Kata Aziz yang juga CEO Firma Hukum Progresif Law menegaskan,
Pak Prabowo bukan pemimpin yang tidak berkarakter apalagi bertipologi penakut. Prabowo, punya rekam jejak yang jelas dalam kontestasi kepemimpinan nasional. Tak pernah berhenti berjuang atau pun putus asa dan menyerah begitu saja. Prabowo juga sudah teruji dan lolos dalam mengonsolidasi dukungan, mengambil hati rakyat.
Karena cintanya pada Indonesia, Prabowo rela menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi. Pemimpin yang telah dua kali mengalahkannya dalam perhelatan Pilpres.
“Pak Prabowo sebagai sosok yang pantang mundur menghadapi tantangan. Negarawan. Artinya, membaca seorang Prabowo, bukanlah Presiden yang berpotensi membungkuk pada mafia dan oligarki yang potensial menggerogoti Republik yang kian tercabik ini,” terang Aziz.
Menurut Aziz, rakyat percaya bahwa Prabowo akan tegak lurus dengan karakter yang disandangnya selama ini. Anti ditekan dan pantang berkompromi dengan mafia dan oligarki yang mengancam keuangan negara.
Rakyat juga yakin, lanjut Aziz, Prabowo tahu bagaimana memainkan catur kekuasaan agar mereka yang terusik dengan kebijakannya soal pemberantasan korupsi, mundur secara teratur.
“Mereka para mafia ini pasti sadar, Pak Prabowo seorang the real President. Dimana arahan dan perintahnya berdampak signifikan pada gurita bisnis yang mafia dan oligarki jalankan. Prabowo seorang pejuang atau petarung (fighter) itu, tak akan menebar ancaman jika hendak berlaga dalam medan pertempuran. Mereka tahu, mengancam adalah sekadar cek ombak. Mengirim pesan ancaman tak lebih dari mengukur sejauh mana nyali Presiden Prabowo. Sehingga Presiden sadar sesadar-sadarnya akan situasi dan kondisi Pertamina yang berada diujung tanduk dan membutuhkan tangan dingin pemimpin tertinggi dalam menuntaskan hingga ke akarnya,” ucap Aziz.
Masih menurut Aziz, Prabowo konsisten berpihak pada keadilan dan semangat empat lima dalam pemberantasan korupsi. Sehingga, rakyat Indonesia akan bersiap dan siaga satu di belakang Presiden Prabowo.
“Boleh saja para mafia dan oligarki punya uang yang tak berseri dan membeli apa yang dinginkan. Namun, Pak Prabowo memiliki yang tidak mereka miliki. Yakni, kepercayaan dari rakyat Indonesia dan memerintahkan Kejaksaan Agung untuk mengusut dugaan korupsi Pertamina yang melukai hati masyarakat,” tegasnya.
Aziz menambahkan, pengusutan korupsi di republik ini tak boleh kendor. Apalagi, dihentikan karena ada ancaman dari sarang koruptor.
“Sekarang, pilihan itu ada di pundak Pak Prabowo. Memilih berhadapan dengan mafia dan oligarki yang terhimpun sebagai bala tentara kerah putih atau hadap-hadapan langsung dengan jutaan rakyat Indonesia yang punya konsekuensi serius. Kehilangan kepercayaan dari para mafia dan oligarki, sekadar berpotensi kehilangan dukungan mafia kerah putih. Namun, kehilangan kepercayaan dari rakyat adalah sama dengan kehilangan segalanya,” Aziz menutup. (yog/ted)






